NEWS VIDEO EKSKLUSIF
Nasib Pendulang Intan Pumpung Tak Secemerlang Kilau Intan
Konon hiasan itu simbol penemuan intan 166,75 karat pada 1965 yang kemudian diberi nama Intan Trisakti oleh Presiden Soekarno.
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Monumen di kiri jalan dengan hiasan intan sebesar kepala kerbau di puncaknya menyambut wisatawan ketika tiba di Pendulangan Pumpung Kecamatan Cempaka Kabupaten Banjar. Konon
hiasan itu simbol penemuan intan 166,75 karat pada 1965 yang kemudian diberi nama Intan Trisakti oleh Presiden Soekarno.
Namun kisah rakyat itu kini tinggal cerita. Di mana sekarang intan raksasa itu tak jelas. Sudahnya nasib penemunya. Bahkan monumen intan Trisakti itu pun tak lagi terurus.
Sahrani, yang akrab disapa Uca (21), warga Desa Pumpung, juga tidak terlalu menghiraukannya. Dia lebih memikirkan mencari penghasilan dari mendulang di desanya daripada bertanya-tanya bagaimana nasib intan 166,75 karat itu.
Sejak kelas empat sekolah dasar, dia menekuni pekerjaan sebagai pendulang intan. Setiap hari Uca berjalan kaki menuju kawasan pendulangan berupa tanah lapang yang sangat luas dengan banyak cerukan lebar bekas pendulangan di berbagai tempat.
Tanah berwarna cokelat kekuningan dengan tanaman ilalang di sekitarnya itu terasa tandus. Uca tak mengeluh. Dia pun harus hati-hati ketika berjalan karena banyak bambu melintang bernama Kasbuk serta mesin genset.
Berisik. Suara mesin genset cukup mengganggu pendengaran. Namun keberadaannya penting guna menyedot air untuk membuat lubang baru.
Begitu hati-hati Uca melangkah. Wajar saja dia tidak dalam kondisi tangan hampa ketika menuju lokasi. Dia memanggul linggangan yakni alat berbentuk caping dari kayu ulin, yang tentu saja berat. “Linggangan ini berat tapi untungnya sudah terbiasa," katanya.
Alat itu untuk 'melinggang' atau mencari intan. Disebut malinggang karena menggunakannya dengan cara menggoyang. Malinggang merupakan bahasa Banjar yang artinya menggoyang.
Sesampainya di lokasi, Uca menenggelamkan tubuhnya hingga sebatas leher, mengambil pasir dan lumpur yang berada di dasar cerukan kemudian diletakkan di linggangan. Selanjutnya linggangan digoyang untuk menemukan butiran intan.
"Berjuang mencari sebuah intan tidaklah sebentar. Tidak lagi seperti dulu. Jika dulu setiap hari bisa dapat intan 10 gram. Saat ini untuk dapat intan harus jeli dan bisa membedakan mana intan, batu akik, atau batu biasa," bebernya.
Luthfi pun demikian. Sejak umur 11 tahun, dia menekuni pekerjaan yang sama dengan Uca. Walau penghasilan tidak menentu, dia tetap memilihnya sebagai pekerjaan utama. "Satu hari paling dapat hasil Rp 50 ribu, ya paling 100 mili berupa serbuk," katanya.
Meski sepi, di Pumpung masih terlihat aktivitas penjual batu dan aksesori. Desa Wisata Pumpung punya bangunan yang disebut gerai batu permata. Salahsatu penjual batu, Murniyani mengaku wisatawan yang membeli batu tidak menentu.
"Wisatawan lebih senang langsung ke pendulangan untuk foto-foto dan melihat-lihat, yang beli sepi, tidak menentu," keluhnya.
Ketua RW 10 Ruslan, didampingi Arkani ketua RT 30 dan Paryoto ketua RT 31 berharap pembebasan lahan terealisasi pada 2017. Dia meminta lahan 10 hektare dibebaskan dan dibangun lahan objek wisata.
Harapan lainnya pembangunan jalan. Bahkan warga sudah susun keinginan pembangunan sampai biaya yang bisa menelan sampai total Rp 13 miliar. "Kalau Desa Pumpung dibiarkan tanpa ada perhatian, lama-lama nasibnya bisa seperti Intan Trisakti.
Sementara warga sudah tak ada penghasilan lain. Bila pendulangan habis maka pengangguran akan banyak. Wisatawan juga tak akan betah di Pumpung jika fasilitas penunjangnya minim," ucap Ruslan diamini Arkani dan Paryoto. (Banjarmasin Post/Tim)