Berita Banjarmasin

Ini Pantangan Pendekar Kuntau, Bila Dilanggar, Ilmunya Hilang

Seni bela diri kuntau adalah silat tradisional Banjar. Di daerah Hulu Sungai, ada beberapa padepokan kuntau.

Penulis: Yayu Fathilal | Editor: Murhan
Banjarmasinpost.co.id/Yayu Fathilal
Para pendekar Perguruan Kuntau (Jasa Datu) Macan Kumbang Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah saat tampil di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Seni bela diri kuntau adalah silat tradisional Banjar.
Di daerah Hulu Sungai, ada beberapa padepokan kuntau.

Para muridnya biasanya dilatih silat kuntau oleh guru mereka di malam hari. Menariknya, jika hendak bertarung mereka ini biasanya menggelar ritual khusus sebelum pertandingan dimulai, yaitu upacara basalamatan atau buka gelanggang.

Setelah para murid tamat mempelajari semua jurus sakti sang guru, mereka akan diwisuda.
Wisuda ala mereka cukup menarik karena penuh dengan ritual adat.

Menurut guru atau pelatih kuntau dari Perguruan Kuntau (Jasa Datu) Macan Kumbang Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan bernama Mahdianor, ritual dilakukan tengah malam.

“Ritualnya biasanya berdua saja, yaitu murid dan guru, dilakukan di dalam ruangan,” jelasnya, Sabtu (25/2/2017) malam usai tampil di Taman Budaya Kalimantan Selatan.

Kalau muridnya datang lebih dari satu orang, biasanya mereka disuruh masuk satu per satu.

Selama di ruangan itu, mereka menggelar ritual patikaman dan palapasan.

Di ritual itu, murid harus menyerahkan hadiah kepada gurunya sebagai tanda terima kasih telah mengajari kuntau.

Hadiahnya berupa kain hitam, belati, ayam, jarum dan benang untuk kemudian disimpan sang guru.
Masing-masing benda itu memiliki arti.

Misalnya belati untuk simbol keberanian menghadapi musuh dan kain hitam sebagai tanda pelindung diri.

Menariknya lagi, aktivitas yang dilakukan mereka selama ritual tersebut tak boleh diketahui oleh orang lain.

Murid tak boleh menceritakannya ke teman-temannya, baik yang seperguruan atau pun tidak, juga ke keluarga.

“Jika dibocorkan ke orang lain, kami meyakini ilmu kuntaunya akan tak berfungsi. Kalau kata orang Banjar itu ruwah. Banyak kejadian seperti itu, yang ilmunya ruwah, ujung-ujungnya bisa menguasai dasar kuntaunya saja, tetapi tidak ke isinya atau ilmu pokoknya,” paparnya.

Karenanya, selama ini pihaknya tak pernah mendokumentasikan kegiatan selama ritual tersebut dalam bentuk video atau foto lalu membagikannya ke media sosial untuk tujuan apa pun, misalnya untuk mempopulerkan kuntau sebagai tradisi Banjar.

Terlebih lagi sekarang ini zaman digital dan media sosial, biasanya kalangan seniman sering mendokumentasikan kegiatan kesenian atau kebudayaan mereka berupa video atau foto lalu diposting di media sosial untuk mengenalkan budaya Banjar ke khalayak umum.

“Paling-paling foto saja saat kami memeragakan jurus kuntau di gelanggang, dipajang di Facebook. Kalau memvideokan ritualnya apalagi sampai memberitahukannya ke orang lain nggak pernah karena tak boleh. Itu melanggar aturan adat yang diajarkan oleh para sesepuh kami dan ilmu kuntau kami bisa ruwah,” bebernya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved