Citra Raja Impian Kita

Apakah kiranya yang memesona dari seorang raja? Mungkin kekayaannya, kekuasaannya, ketenarannya, kemewahan hidupnya, penjagaan keamanannya,

Editor: BPost Online
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Apakah kiranya yang memesona dari seorang raja? Mungkin kekayaannya, kekuasaannya, ketenarannya, kemewahan hidupnya, penjagaan keamanannya, istri-istrinya yang jelita atau putra-putrinya yang tampan dan rupawan. Paling tidak, begitulah citra seorang raja yang dihadirkan media jurnalistik dan media sosial sejak persiapan hingga kedatangan Raja Salman minggu lalu di Indonesia.

Citra seorang raja yang serba ‘wah’ semacam itu mungkin sudah biasa, terutama dalam dongeng yang dituturkan oleh guru kita, orangtua kita atau kisah komik dan film. Citra itu adalah gambaran tentang impian kita mengenai kekuasaan. Kita tertarik membaca, menonton dan membicarakan citra itu, bukan terutama karena kedatangan sang raja, melainkan karena mimpi-mimpi kita sendiri.

Impian menjadi kaya raya, berkuasa dan terkenal sepertinya sudah merasuk jauh sekali ke dalam lubuk diri kita yang terdalam, bukan hanya menyelinap dari ujung rambut hingga ujung kaki, tetapi mendarah daging hingga ke sumsum. Karena itu, orang yang dinilai telah mencapai impian indah tersebut merupakan wujud nyata yang selalu dipandang dengan penuh ketakjuban sekaligus rasa iri.

Impian menggerakkan hidup manusia. Karena itu wajar jika orang mengerahkan seluruh energi dan kemampuan untuk meraih sesuatu yang diimpikannya. Masalahnya, orang kadang menghalalkan segala cara. Demi kekuasaan, orang mau menyogok, memberi janji palsu, mengancam, mengadu domba hingga membunuh. Harapannya, dengan kekuasaan, kekayaan dan ketenaran akan segera menyusul.

Semua ini terjadi karena citra raja yang tertanam di benak kita, dan tumbuh subur berdaun rindang dan berakar menghunjam di hati kita, adalah citra yang berat sebelah. Berat sebelah karena ada sisi lain yang diabaikan, yaitu bahwa kekuasaan adalah tanggung jawab. Kekuasaan adalah amanah, suatu titipan kepercayaan yang diberikan kepada seseorang agar dia berlaku adil dan melindungi yang lemah.

Sejauh pengamatan saya terhadap media kita minggu lalu, sangat sedikit penghadiran citra raja yang adil dan bijaksana itu. Sangat jarang orang membahas betapa sulitnya menegakkan keadilan di zaman ini, laksana menegakkan benang yang basah. Hampir tidak ada yang menyoroti betapa berat beban pikiran seorang raja, andai dia siang-malam memikirkan rakyatnya, terutama mereka yang miskin dan sengsara.

Rupanya demikianlah umumnya impian-impian kita tentang kekuasaan. Kekuasaan adalah kenyamanan, bukan beban. Kekuasaan adalah hak, bukan tanggung jawab. Kekuasaan adalah keberuntungan, bukan pengorbanan. Karena itu, jika kau berkata bahwa kau sama sekali tidak berambisi menjadi penguasa sampai mulutmu berbuih-buih sekalipun, orang tidak akan percaya dan menuduhmu seorang pendusta!

Kaum sufi mengatakan, setiap diri manusia adalah kerajaan, dan akal adalah sang raja. Raja yang baik adalah yang dapat mengendalikan bawahannya. Bawahannya itu adalah nafsu dan tubuh, yang tidak boleh dimatikan, tetapi harus dikendalikan oleh akal, bukan sebaliknya. Itulah keadilan, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika keinginan-keinginan rendah nafsu menguasai akal, lahirlah kezaliman.

Keadilan adalah keseimbangan. Kezaliman adalah ketimpangan. Citra raja di benak kita yang cenderung berat sebelah itu menunjukkan bahwa kita umumnya masih melihat kekuasaan secara timpang. Pandangan yang timpang terhadap kekuasaan tersebut adalah pandangan yang zalim, sehingga pada gilirannya ketika kekuasaan didapat, maka kezaliman dengan mudah beranak pinak.

Padahal, pepatah Melayu mengajari kita: Raja adil, raja disembah. Raja zalim, raja disanggah! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved