Berita Heboh
Masih Ingat Film Anaconda yang Mengambil Setting di Indonesia! Ternyata Ada di Kehidupan Nyata
Film yang bercerita mengenai teror ular anaconda raksasa tersebut diceritakan berada di pulau Kalimantan, Indonesia.
BANJARMASINPOST.CO.ID - Masih ingat dengan film Anaconda yang popular di tahun 2004 silam?
Film yang bercerita mengenai teror ular anaconda raksasa tersebut diceritakan berada di pulau Kalimantan, Indonesia.
Film ini bercerita tentang sekelompok ilmuan yang mencari bunga langka di Kalimantan.
Bunga tersebut bernama blood orchid atau anggrek hitam.
Bunga tersebut dipercaya memiliki banyak kelebihan bagi manusia.
Satu diantaranya adalah membuat awet muda dan umur panjang.
Namun dalam perjalanan menyusuri pedalaman pulau Kalimantan, mereka malah mendapati serangan dari ular raksasa.
Ular tersebut merasa terusik atas kedatangan para ilmuan di habitat ular tersebut hidup.
Ular tersebut meneror para ilmuan dan banyak memakan korban jiwa.
• Terkenal Serius dan Tegas, Coba Tengok Cantiknya Najwa Shihab Berpose ala Model!
Peristiwa ular meneror manusia itu tidak hanya ada film saja, namun benar-benar terjadi di kehidupan nyata.
Seorang petani kelapa sawit bernama Akbar mengalami hal tersebut, pada Minggu (26/3/2017).
Akbar tewas karena dimangsa oleh ular piton raksasa berukuran panjang tujuh meter.
Kejadiaan nahas tersebut terjadi ketika Akbar tengah memanen kelapa sawit di kebunnya.
Kejadian mengenaskan ini terjadi di Desa Salubiro, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.
Pulau-pulau di Indonesia, seperti Kalimantan dan Sulawesi memang dihuni oleh ular-ular berukuran besar.
Dikutip dari wikipedia, hal ini dikarenakan banyaknya sungai dan rawa serta hutan lebat yang dimiliki Indonesia.
Laporan Kompas.com, 21 Februari 2009 lalu juga mengungkapkan bahwa seekor ular yang memilik panjang 33 meter muncul di pulau Kalimantan, masuk bagian Malaysia.
Ular tersebut terlihat di Sungai Baleh, Sibu, Serawak, bagian utara Kalimantan.
Keberadaan ular tersebut berhasil diabadikan melalui foto oleh anggota tim wilayah bencana banjir yang kemudian diterbitkan oleh Utusan Sarawak, sebuah koran lokal, di Malaysia.
Kabar tersebut juga dimuat di New Straits Times di Kuala Lumpur, hingga kemudian dirilis pula oleh The Telegraph, Inggris.
Mamuju, tempat tewasnya Akbar diketahui pula sebagai sarang dari ular piton terbesar di Indonesia.
Hal ini diungkapkan oleh Bidang Konserfasi Sumber Daya Alam, Polhut Resort Mamuju, Hardi, kepada TribunSulbar.com, Rabu (29/3/2017).
"Hampir semua wilayah di Mamuju Tenga itu terdapat ular piton atau sanca," kata Hardi.
"Apalagi dikanal-kanal kebun sawit itu hampir semua ditempati," tambahnya.
Ia mengungkapkan, Daerah Salubiro Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulbar, merupakan daerah yang paling banyak ular Piton menyebar.
Ular piton tersebut menyebar karena habitatnya terganggu.
"Gara-gara habitatnya ini terganggu oleh pembukaan lahan sawit, makanya menyebar dan hampir semua wilayah di Mateng terdapat, apalagi di Salubiro," ungkapnya.
Ia mengungkapkan bahwa Piton paling sering terlihat saat memasuki musim kemarau dan penghujan.
"Kalau sudah musim kemarau dan hujan pasti banyak bermunculan," ujarnya.
Hardi juga mengungkapkan data dari Bidang Konserfasi Sumber Daya Alam Polhut Sulawesi Barat.
"Memang di Sulbar banyak apalagi wilayah Mamuju, bahkan Sulbar memiliki kuota perdagangan sekitar 1.000 per tahun khusus ular sanca atau piton," ujarnya.
Tak hanya dihuni ular besar, kawasan Mamuju juga dihuni oleh Buaya.
Hardi mengimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap keberadaan hewan-hewan pemangsa yang ada di kawasan tersebut.
(Tribunwow.com/Fachri Sakti Nugroho)