Breaking News

Berita Hulu Sungai Tengah

Brigjen Suharjono Jelaskan Soal Proxy War ke Warga Desa Pasting, Apa Itu?

makin pesatnya populasi penduduk dunia, yang tak diimbangi ketersediaan pangan, air bersih dan energi, bakal menjadi pemicu munculnya konflik baru.

Penulis: Hanani | Editor: Murhan
Banjarmasinpost.co.id/Hanani
Inspektur Perbendaharaan pada Inspektorat Jenderal TNI Angkatan Darat, Brigjen Suharjono di Desa Pasting dan Batang Bahalang, Mangunang 

BANJARMASINBPOST.CO.ID, BARABAI - Proxy war atau perang yang menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti perang konvensional, dengan misi menguasai sumber energi, pangan dan air saat ini mengancam bangsa Indonesia.

Fakta adanya proxy war tersebut, telah dirasakan. Maraknya peredaran narkoba, penyalahgunaan obat, hingga di bidang perekonomian. Petani tak bisa sejahtera karena harga hasil pertanian dan perkebunan yang di bawah standar.

“Ini sebagai contoh nyata, proxy war telah ada, dan masuk di semua sektor,” kata Brigjen TNI Suharjono, Inspektur Perbendaharaan pada Inspektorat Jenderal TNI Angkatan Darat, saat memberikan wawasan kebangsaan kepada warga Desa Pasting, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah, kemarin.

Kegiatan bertempat di SDN Pasting tersebut dihadiri seluruh warga desa, terdiri remaja dan para orang tua. Warga cukup antusias menyimak pemaparan mantan Danrem 101 Antasari yang bertema peran pemuda dalam menghadapi proxy war, dalam rangkaian kegiatan TMMD ke 98.

Pada kegiatan itu, turut hadir Dandim 1002 Barabai Letkol Inf Dodit Herry Setiawan, Asisten Bidang Pemerintahan Pemkab HST Hasbi, serta jajaran Kodim 1002, serta Kepala Dinas PU dan Penataan Ruang.

Suharjono menjelaskan, makin pesatnya populasi penduduk dunia, yang tak diimbangi ketersediaan pangan, air bersih dan energi, bakal menjadi pemicu munculnya konflik baru.

Negara-negara ekuator pun bakal menjadi target. Termasuk Indonesia, negara yang subur untuk sumber daya pangan.

“Pulau Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan, bahkan Barabai, masuk daerah yang tak hanya subur sumberdaya pangan. Tapi juga kaya sumber daya air dan energi,” jelasnya.

Dijelaskan, banyak cara-cara pihak asing agar Indonesia dikuasai sumber daya alamnya. Seperti menguasai lahan dengan membeli pada masyarakat, melalui pihak ketiga, sehingga bukan tidak mungkin, warga sendiri tak akan bebas lagi mengambil air.

“Mereka juga merusak pola pikir pemuda, cuci otak yang membuat tak bisa berpikir logis, merusak mental dengan narkoba dan penyalahgunaan obat-obatan. Di dunia pendidikan mahasiswa dibuat yang seharusnya melayani dan mebela masyarakata menjadi bentrok dengan masyarakat serta merusak fasilitas belajar. Banyak hal lagi yang kini sedang terjadi di negeri ini,” jelasnya.

Contoh perusakan mental generasi muda tersebut, sebagai bukti perang tak lagi dilakukan dengan angkat senjata. Melalui perang proxy ini, tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan nonstate actors dari jauh.

Jadi salah satu cara kita melawannya, dengan kekuatan pemuda. Suharjono mengajak warga agar menggunakan hati nurani logika dan akal sehat, sehingga tak mudah terpengaruh iming-iming pihak lain. Juga, jangan mudah terpengaruh budaya asing dan tetap bangga dengan produk dan budaya bangsa sendiri.

“Bangga dengan budaya Kalsel, budaya Barabai. Punya cita-cita, fokus dan optimistis, bekerja tulus serta fleksibel dengan lingkungan sekitar. Waspadai dan pilah-pilah juga informasi di media sosial,” katanya.

Sedangkan untuk mempertahankan NKRI sebut dia, tetap berpegang pada dokrin persatuan dan kesatuan, serta cita-cita Indonesia sebagai negara.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved