Puisi Banjarmasin Post

Memahat Sejarah di Punggungmu

Para tukang-tukang dari masa lalu, bergegas memahat sejalan sejarah di punggungmu, dengan tajam pahat, kapak, parang, palu dan paku

Editor: Elpianur Achmad

OLEH: REZQIE MUHAMMAD ALFAJAR ATMANEGARA

Memahat Sejarah di Punggungmu

Para tukang-tukang dari masa lalu
bergegas memahat sejalan sejarah di punggungmu
dengan tajam pahat, kapak, parang, palu dan paku
bulan pun mematung di dahimu
ketika syair-syair lama terbuka kembali
dari lembar mulutmu diganjal leluhur dengan ulin

kutancapkan seruyung batok di pusarmu
sebagai tanda batas kiri adalah kepunyaanmu
sedangkan bagian kanan ialah kekuasaanku
di sana kelak akan kubangun pulau dan laut
antara lehermu dan keduabelah paha
untuk anak cucuku mengarung dan menepikan hidup
pada darah dagingmu dan menyelam ke dasar jantungmu
barangkali di sana akan dijumpainya sejarah leluhur

di ketelanjanganmu kutegakkan tiang-tiang pemujaan
untuk setiap waktu tubuhmu kujadikan sebagai sesaji
tempat roh-roh masa silam berterbangan
menyusun keping-keping sunyi di matamu
saat sekujur dirimu menghitam diperam malam

Rumah Ombak (I)

Bukankah kau dan aku sepakat
bahwa kitalah anak-anak buih
ialah peranakan perut ombak
beribu lautan dan berayah daratan

kita berpanutan angin dan prakiraan langit
sebagaimana mengerti menjinakkan laut
di genggaman telapak tangan kita tergaram
kita tanak bersama asinnya hidup
di teduh alunan rumah ombak

 

Rumah Ombak (II)

Di lambung laut menganga
kita bangun suar-suar kegigihan
memahat laut dengan dayungan waktu
sampai perahu kandas di dada cadas

bukankah pula kita telah setuju
bahwa di rumah ombak senantiasa
candu bersatu dan rindu selalu menyeru
sebagai mantra-mantra orang pesisir

Mencium Telapak Kaki Senjakala

Senjakala itu musnah dari hadapan
lalu gerimis giris memisaukan risau
pada sekujur tubuh tertuba legam
kukemasi catatan masa silam
tercelup dalam kehitaman malam
setiap kutulis huruf selalu berkelabat
menjadi rajawali dan elang
mengais sisa rahmat di sisi padang kasihMu
mematuki bijih rezeki di kawah kebesaranMu

seusai senjakala itu
aku masih menjinakkan sungai
menggeliat-geliat dalam darahku
aku terus menebangi pepohonan
mengakar erat ke kepalaku
dan aku tak henti menyembelih binatang
dalam nyawa kemanusiaanku
sebelum kepercayaan dan keyakinan
terhempas pada batu-batu takdir

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved