Berkah Ramadan

Tausiyah: Kekuatan Iman

Keimanan dan kepasrahan pada Allah sangat vital perannya bagi orang yang ingin mendapattkan ketenangan dan makna hidup.

Editor: Elpianur Achmad
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Sabtu (10/6/2017) 

Oleh: Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Komaruddin Hidayat

BANJARMASINPOST.CO.ID - Keimanan dan kepasrahan pada Allah sangat vital perannya bagi orang yang ingin mendapattkan ketenangan dan makna hidup. Dalam ungkapan Jawa, Gusti Allah merupakan sangkan paraning dumadi, asal usul dan tujuan hidup itu sendiri.

Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ketika orang sudah merasa sukses dalam hal karier keduniaan, atau sebaliknya merasa gagal dan terpuruk, selalu muncul pertanyaan eksistensial, bukankah semua serial drama hidup ini nantinya akan berakhir dengan kematian?

Adakah kehidupan lanjut setelah mati? Kalau ada, adakah hubungan nasib di dunia ini dengan hidup yang baru? Andaikan mati adalah akhir dari seluruh dari eksistensi dan tak ada lagi kehidupan, lalu untuk apa semua perjuangan hidup ini aku jalani?

Pada diri setiap orang selalu menyimpan pertanyaan dan kegelisahan yang nalar tak mau memberi jawaban melegakan. Terlalu banyak pertanyaan dan ketidaktahuan terhadap realitas semesta dan kehidupan.

Akumulasi pengalaman masa lalu, berbagai cerita orangtua dan ceramah keagamaan, kesemuanya mendorong pada keyakinan mati bukanlah akhir kehidupan. Ada sumber kehidupan yang tak kenal mati dalam diri setiap orang, entah itu namanya ruh, jiwa, atau ada istilah lain.

Begitupun dalam diri setiap orang ada dorongan untuk meraih hidup bermakna baik bagi diri, keluarga maupun masyarakat. Dinamika dan jarak antara cita-cita indah yang tak terbatas dan realitas hidup yang mengecewakan selalu memunculkan kegelisahan, kekecewaan dan semangat untuk selalu berjuang.

Keyakinan dan cita-cita mulialah yang selalu memberikan amunisi dan semangat untuk selalu melangkah maju membangun kehidupan lebih baik. Hasil penalaran rasional dan akumulasi pengalaman hidup tetap saja menyisakan teka-teki dan misteri hakikat kehidupan yang tak terjawab.

Oleh karena itu orang lalu mencari jawab pada agama, yang sentralnya adalah kepercayaan dan keyakinan adanya Tuhan yang serba maha. Semata berdasarkan penalaran rasional, baik orang percaya akan adanya Tuhan maupun mereka yang tidak percaya, masing-masing memiliki basis argumen yang sulit dikompromikan.

Semakin maju perkembangan ilmu pengetahuan, semakin maju pula argumen orang yang mengingkari adanya Tuhan berdasarkan argument saintifik. Jika berbagai teori dan argumen tentang adanya Tuhan dikumpulkan, skornya lebih tinggi dan lebih meyakinkan ketimbang yang mengingkarinya.

Gelisah

Dikenal pula argumen psikologis yang disebut the will to believe. Bahwa sesungguhnya dalam diri manusia terdapat dorongan kuat untuk percaya adanya Tuhan. Dorongan ini diperkuat lagi dengan argumen kenabian yang datang memperkenalkan wahyu ilahi disertai mukjizat.

Namun sesungguhnya berbagai argumen dimaksud tetap tidak mampu mengusir anxiety, kegelisahan manusia. Makanya sekalipun orang telah mengaku beragama dan yakin adanya Tuhan, aktivitas paling utama dari sikap keberagamaannya adalah berdoa.

Di dalam doa setidaknya terdapat dua hal. Pertama karena adanya rasa gelisah, ragu, takut, khawatir, dan disisi lain keinginan kuat untuk mengadu pada Tuhan agar mendapatkan kepastian dan ketenangan. Secara rasional, percaya dan meyakini Tuhan yang kemudian disebut beriman dan orangnya disebut mukmin, di situ terdapat sebuah loncatan untuk melenyapkan keraguan.

Rasa takut pada hukuman (neraka, punishment, kesengsaraan) dan harapan pada pahala (surga, reward, kebahagiaan) membuat seseorang selalu berusaha untuk hidup hati-hati dan berprestasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved