Breaking News

Berita Banjarmasin

Melihat Pembuatan Kapur Sirih di Pulau Sugara, Air Kulit Kerang Bisa Mendidih Tanpa Api

Setelah itu cangkang kerang kepah didinginkan lalu dimasukkan dalam blek-blek bekas minyak goreng dan lem kapasitas 25 kilogram.

Tayang:
Editor: Elpianur Achmad
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Minggu (18/6/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - HARI beranjak siang, ketika BPost berkunjung ke Pulau Sugara Kecamatan Alalak Kabupaten Baritokuala belum lama ini. Sekelompok ibu rumah tangga tampak sibuk dengan aktivitasnya membuat kapur sirih.

Mengenakan pakaian sederhana –mayoritas berkain sarung– dengan rambut yang ditutup kerudung atau handuk kecil, para perempuan paruhbaya itu asyik dengan pekerjaan masing-masing.

Ada yang mengaduk adonan kapur agar menjadi lebih halus, ada pula yang mengangkat dan memindahkan wadah kapur dari blek atau kaleng bekas minyak goreng atau lem ke tempat penyimpanan.

Bagi para ibu rumah tangga, khususnya yang hobi memasak, tentu tidak asing lagi dengan kapur sirih. Bahan ini biasanya digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari bahan perenyah hingga pengawet makanan. Kapur sirih juga bisa digunakan sebagai bahan obat dan bermanfaat untuk kecantikan.

Kapur sirih bukanlah kapur yang dicampur dengan sirih seperti anggapan segelintir orang. Kapur sirih adalah bahan yang menyerupai kapur yang digunakan oleh orang-orang zaman dulu untuk makan sirih.

Di Kalsel, perajin kapur sirih yang cukup terkenal adalah dari Pulau Sugara. Uniknya, kapur sirih di sini tidak dibuat dari batu kapur seperti yang ada di Pulau Jawa, melainkan cangkang kerang kepah.

Salah satu pengusaha pembuat kapur sirih di Pulau Sugara adalah H Kadir (60). Sudah puluhan tahun, lelaki tua itu menekuni usaha ini bersama keluarga besarnya.

Menurut H Kadir, pembuatan kapur sirih dari cangkang kerang kepah sebenarnya mudah, tapi memerlukan waktu cukup lama. Pertama, cangkang kerang kepah dalam jumlah banyak dibakar selama 10 jam menggunakan kulit kayu. Ini agar cangkang kerang menjadi rapuh namun tidak gosong. Proses pembakaran supaya cangkang mudah dihaluskan.

Setelah itu cangkang kerang kepah didinginkan lalu dimasukkan dalam blek-blek bekas minyak goreng dan lem kapasitas 25 kilogram. Proses selanjutnya adalah penghancuran.

H Kadir menjelaskan, proses penghancuran cukup unik. Setelah dipindahkan ke blek khusus, kerang hanya disiram air dingin dan sedikit air panas lalu diaduk-aduk menggunakan tongkat kayu panjang. Walaupun tidak ada api yang memanasi, perlahan airnya mendidih hingga meletup-letup menjadi putih susu setelah bercampur dengan kulit kerang yang mulai hancur.

“Proses ini memang menarik dilihat. Bahkan ada turis asing yang datang ke desa ini sampai terkagum-kagum. Dia bingung mencari dimana apinya, kok airnya bisa mendidih,” ujarnya bercerita.

Selama proses penghancuran itu, orang yang di dekatnya harus berhati-hati. Jangan sampai terciprat air kapur yang mendidih.

Setelah letupan mereda dan cangkang kerang benar-benar hancur, baru dilakukan tahap penghalusan.

Tahap inilah yang biasanya memberdayakan para perempuan di desa setempat. Seperti di tempat H Kadir yang saat itu mempekerjakan tiga perempuan untuk mengaduk kapur sirih.

Kapur yang sudah hancur harus diaduk terus sampai menjadi adonan halus dan sedikit lengket mirip dodol. Pengadukan satu blek kapur sirih ini memerlukan waktu sekitar dua jam. Dalam sehari, satu buruh pengaduk bisa menyelesaikan 4-5 blek, dengan penghasilan rata-rata hanya Rp 25.000.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved