Serambi Ummah
G30S PKI, KH Tabrani Basri: Tangkal Lewat Semangat Agama
Gerakan G30S PKI adalah titik hitam dalam sejarah Indonesia, dimana terjadi pengkhianatan orang-orang yang tergabung dalam PKI
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Gerakan G30S PKI adalah titik hitam dalam sejarah Indonesia, dimana terjadi pengkhianatan orang-orang yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (KPI) yang ingin memaksakan kehendak mereka.
"Orang PKI ingin Indonesia itut tidak bertuhan," kata Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan periode 1997-2003, KH Tabrani Basri.
Menurut Tabrani, segala macam cara ditempuh orang-orang PKI. Mula-mula mengembangkan dan mempengarahi para petinggi presiden sampai TNI. Saat PKI merasa cukup kuat, mencoba melakukan kudeta. "Kudeta mereka gagal," kata Tabrani.
Ditambahkan, pimpinan ABRI AH Nasution pun ketika itu tidak berhasil dipengaruhi. Pada 30 September, orang- orang PKI melakukan operasi besar-besaran yakni pembunuhan tujuh jenderal. Akhirnya, muncul Soeharto, yang kemudian mengambil alih kekuasaan.
"Intinya G30S PKI itu ingin memaksakan kehendak mereka, agar Indonesia menjadi negara yang tidak bertuhan," katanya.
Baca juga : G30S PKI, Generasi Milenial Wajib Waspadai Paham Komunis, Lakukan Ini Jika Ada Informasi Berbahaya
PKI, sambung Tabrani, ingin juga meminggirkan Pancasila. Pernah terjadi guru TK juga didoktrin, bahwa yang memberi makanan itu ibumu, bukan Tuhan. PKI ingin menghilangkan eksistensi Tuhan dalam kehidupan.
Dijelaskan, PKI juga melakukan aksi-aksi sepihak barisan tani dan pemuda rakyat, sehingga para petani terpengaruh. Begitu tercium, PKI melakukan gerakan brutal. Pemberontakan PKI tahun 1965 itu yang kedua, pemberontakan pertama tahun 1958.
"Program PKI waktu itu luar biasa, yakni menghapuskan ulama. Seperti daftar ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk daftar yang akan disingkirkan," katanya.
Bung Karno, sambung Tabrani, mencium gerakan PKI tersebut dan membuat tindakan tegas.
Jika semangat beragama itu kuat, komunisme tak akan muncul. Kekuatiran munculnya komunisme itu, tak perlu ada lagi.
Ditambahkan, PKI bisa muncul karena semangat agama di kalangan anak-anak muda lemah. Menjelang G30S PKI, aktivitas organisasi Islam mulai menurun, seperti pembinaan remaja Islam kurang.
"Setelah terjadi G30S PKI baru sadar. Begitu sadar, masjid, langgar, madrasah justru kebanjiran murid," katanya.
Di mana-mana, sambungnya, orang takut kalau tak bicara tentang agama. Dikuatirkan diduga kalau antek PKI dan bukan kesadaran sesungguhnya. Saat ini mulai terasa krisis jemaah. Seperti jumlah penduduk Banjarmasin yang begitu banyak, seharusnya langgar dan masjid tak akan mampu menampung cukup jemaah.
"Masjid banyak jemaahnya jika hari Jumat. Banyak langgar, musala dan masjid, masih sedikit jemaahnya," katanya.
Dengan banyaknya langgar dan masjid yang kosong jemaah, sambungnya, akan mudah masuk ajaran-ajaran yang bertentangan dengan agama. Jargon NKRI harga mati, justru tidak efektif.
"Tapi bagaimana semangat generasi muda itu dibina semangat keagamannya," katanya. (ogi)
Berita ini telah diterbitkan di Serambi Ummah Edisi Jumat (29/2/2017) Halaman B
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/serambi-ummah_20170930_122403.jpg)