Berita Banjarmasin

Pangeran Antasari : 'Hidup dan Mati Hanya untuk Allah'

Hari ini tepat 115 tahun silam, tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari menghembuskan nafas terakhirnya.

Tayang:
Penulis: Rahmadhani | Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Pangeran Antasari. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Hari ini tepat 155 tahun silam, tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari menghembuskan nafas terakhirnya.

Banyak kisah yang bisa dijadikan panutan dari Pangeran Antasari selama memimpin rakyat Kalsel melawan penjajahan Belanda.

Selama Perang Banjar yang berlangsung dari tahun 1859 sampai 1905, banyak kisah heroik yang ditunjukkan Pangeran Antasari yang lahir di Kayutangi Banjarmasin ini.

Hadirnya Pangeran Antasari sebagai sosok penting dalam Perang Banjar dimulai dari perebutan kekuasaan Kesultanan Banjar.

Sultan Tahmidillah I (1778 – 1808) kala itu mempunyai anak tiga orang, yang berhak menggantikannya sebagai sultan, yaitu Pangeran Rahmat, Pangeran Abdullah dan Pangeran Amir.

Baca: Peringatan 155 Tahun Wafatnya Pangeran Antasari, Ini Jasa-jasa dan Saksi Bisu Sejarah Perjuangannya

Dalam perebutan kekuasaan, Pangeran Nata salah seorang saudara Sultan Tahmidillah I, berhasil membunuh Pangeran Rahmat dan Abdullah. Keberhasilan ini disebabkan bantuan Belanda yang diberikan kepada Pangeran Nata.

Oleh karena itu Pangeran Nata diangkat oleh Belanda menjadi sultan dengan gelar Sultan Tahmidillah II.

Tampilnya Sultan Tahmidillah II menjadi sultan Banjar mendapat tantangan dan perlawanan dari Pangeran Amir, salah seorang putera Sultan Tahmidillah I yang selamat dari pembunuhan Sultan Tahmidillah II.

Dalam pertarungan antara Sultan Tahmidillah II yang sepenuhnya dibantu oleh Belanda dengan Pangeran Amir, maka akhirnya Pangeran Amir dapat ditangkap oleh Belanda dan di buang ke Ceylon.

Pangeran Antasari.
Pangeran Antasari. (istimewa)

Kemenangan Sultan Tahmidillah II atas Pangeran Amir harus dibayar kepada Belanda dengan menyerahkan daerah-daerah Pegatan, Pasir, Kutai, Bulungan dan Kotawaringin.

Pangeran Amir mempunyai seorang putera bernama Pangeran Antasari, yang lahir pada tahun 1809.

Sejak kecil Pangeran Antasari tidak senang hidup di istana yang penuh intrik dan dominasi kekuasaan Belanda. Ia hidup di tengah-tengah rakyat dan banyak belajar agama kepada para ulama, dan hidup dengan berdagang.dan bertani, seperti dikutip dalam buku Perang Salib versus Perang Sabil karangan Abdul Qadir Djaelani.

Baca: Pangeran Antasari, Benci Eksploitasi Batu Bara Sejak Zaman Belanda, Berikut Fakta-faktanya

Pengetahuannya yang dalam tentang Islam, ketaatannya melaksanakan ajaran-ajaran Islam, ikhlas, jujur dan pemurah adalah merupakan akhlaq yang dimiliki Pangeran Antasari.

Pandangan yang jauh dan ketabahannya dalam menghadapi setiap tantangan, menyebabkan ia dikenal dan disukai oleh rakyat.

Dan ia pun menjadi sosok pemimpin yang ideal bagi rakyat Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin.

Bahkan dalam mengobarkan perlawanan kepada penjajah Belanda di tengah masyarakat, Pangeran Antasari yang mendapat dukungan penuh dari Pangeran Hidayat yang menjabat sebagai Sultan Kerajaan Banjar.

Semua kekuatan dihimpun untuk menyerang Belanda, mulai dari daerah Barito, Kapuas, Hulu Sungai, Tanah Laut dan daerah lainnya. Hingga ratusan pasukan telah siap bergerak dengan satu komando.

Tepatnya tanggal 28 April 1859, Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari meletus. Tujuan utama pertempuran adalah untuk menguasai benteng Pengaron yang dipertahankan mati-matian oleh Belanda. Pertempuran di benteng pengaron ini, disambut dengan pertempuran-pertempuran di berbagai medan yang tersebar di Kalimantan Selatan.

Perang Banjar kemudian disambut dengan pertempuran-pertempuran lain untuk melawan dominasi Belanda di Kalimantan Selatan.

Seperti pertempuran mempertahankan benteng Tabanio pada Agustus 1859, pertempuran mempertahankan benteng Gunung Lawak pada september 1859, dan pertemuran mempertahankan kubu pertahanan Munggu Tayur pada Desember 1859.

makam pangeran antasari
makam pangeran antasari (banjarmasinpost.co.id/m rifqi ihsani)

Sementara itu Pangeran Hidayat makin jelas menentang Belanda dengan memihak kepada perjuangan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Antasari, memaksa penguasa Belanda menuntut supaya Pangeran Hidayat menyerah.

Baca: Fakta Menarik Seputar Jamie Chua, Eks Istri Konglomerat Indonesia, Ternyata Dia Sahabat Syahrini!

Namun hal itu ditolak oleh Pangeran Hidayat hingga akhirnya penguasa kolonial Belanda secara resmi menghapuskan kesultanan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860.

Perlawanan semakin meluas, kepala-kepala daerah dan para ulama ikut memberontak, memperkuat barisan pejuang Pangeran Antasari bersama-sama Pangeran Hidayat. Tetapi karena persenjataan pasukan Belanda lebih lengkap dan modern, pasukan Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat terus terdesak serta semakin lemah posisinya.

Setelah memimpin pertempuran selama hampir tiga tahun, ditambah kondisi kesehatan yang terus menurun, akhirnya Pangeran Hidayat menyerah kepada Belanda tahun 1861. Dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat.

Sebagai gantinya, perjuangan umat Islam Banjar dipimpin sepenuhnya oleh pangeran Antasari.

Baik sebagai pemimpin rakyat, maupun sebagai pewaris Kesultanan Banjar.

Sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Kalimantan Selatan, maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, Pangeran Antasari mulai menyerukan perlawanan kepada Belanda dengan mengajak seluruh elemen masyarakat berpegang teguh kepada keyakinan 'Hidup dan mati hanya untuk Allah SWT'.

Karena sikap Pangeran Antasari yang menjunjung tinggi agama Islam, seluruh rakyat, pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Suatu gelar yang juga pernah disandang oleh Rasullulah SAW.

Baca: Ada 7 Fakta Penggerebekan Pasangan Mesum di Musala, No 5 Sudah Kebelet dan Main Berdiri Pun Oke

Pengangkatan ini sekaligus menempatkan Pangeran Antasari secara resmi memangku jabatan sebagai kepala pemerintahan, panglima perang dan pemimpin tertinggi agama Islam. Pertempuran yang berkecamuk makin sengit dan berlangsung di berbagai medan, antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan pasukan Belanda.

Namun karena pasukan Belanda mendapatkan sokongan bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya pasukan Pangeran Antasari berhasil dipukul mundur hingga memaksa memindahkan benteng pertahanannya di hulu Sungai Teweh.

Perlawanan terus ditunjukkan oleh pasukan Pangeran Antasari hingga akhirnya Pangeran Antasari meninggal pada 11 Oktober 1862, setelah sakit komplikasi yang dideritanya.

Selepas kepergiannya, perjuangan melawan penjajah di Kesultanan Banjar dipimpin oleh Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said dan teman dekat pangeran. (*)

(banjarmasinpost.co.id/rahmadhani)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved