Cerpen BPost

Cerpen: Penggali Kubur

Telah puluhan jenazah yang diperhatikan Jupri. Ada yang terasa sangat mudah saat menggali, persis menggali tanah liat.

banjarmasin post group
Ilustrasi oleh Riza 

 BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Jupri bukan tak memiliki pekerjaan lain. Profesinya sebagai pemulung ulung sudah dilakoni bertahun-tahun.

Entah mengapa, sejak dua tahun terakhir, ia tak lagi tergila-gila mencari botol atau koran bekas. Sebaliknya, ia sangat suka menggali kubur.

Entah pagi, siang bahkan tengah malam, ia akan tetap melakukan pekerjaan ini. Tentu tak ada yang membayar karena menggali kubur dilakukan atas rasa solidaritas kekeluargaan.

Seperti tiga hari lalu, kendati botol yang terkumpul masih setengah karung, Jupri segera mengajukan diri sebagai penggali.

Entah mengenal sang jenazah atau tidak, Jupri tetap bersedia. Kontan orang-orang banyak yang bahagia, karena menggali kubur tak semudah yang dibayangkan orang.

Telah puluhan jenazah yang diperhatikan Jupri. Ada yang terasa sangat mudah saat menggali, persis menggali tanah liat. Ada juga yang tak kunjung selesai hingga setengah hari, meskipun sudah pindah banyak lokasi karena selalu terhadang batu besar di dalam lubang. 

Ada juga lubang kubur yang tergenang air sehingga terpaksa jenazah dikubur dalam banjir. Ah, pastilah setiap kali menggali, orang-orang akan menyangkutpautkan dengan perilaku almarhum selama hidup.

Entah memang terdapat hubungan antara keduanya, Jupri tak mengerti. Tetapi, ia yakin semua manusia baik mati ataupun hidup pasti mendapat balasan dari Tuhan.

“Darimana saja kau ini? Jasen meninggal tadi pagi,” Karto rekannya seprofesi itu menggerutu.
“Aku pergi ke rumah sakit sejak subuh.”
“Siapa yang sakit?”
“Ah, tidak ada. Aku sekadar melihat bayi-bayi yang baru lahir.”

Karto tak menjawab. Ia sibuk melihat kerumunan orang-orang yang masih menaburkan bunga di atas makam Jasen. Sedang Jupri memperbaiki duduknya di atas gubuk tua di pojok makam. “Apa yang kau lakukan dengan bayi itu? Tak ada kerjaan saja,” akhirnya Karto menanggapi ucapan kawannya.

Jupri tampak berpikir keras menemukan jawaban. “Aku juga tak tau. Aku merasa seperti terlahir kembali saat melihat bayi-bayi itu. Tapi, setelah melihat kuburan seperti sekarang, aku seperti mau mati esok hari.”

“Hush! Tak boleh bicara begitu. Minta umur panjang saja. Biar kita masih bisa sembahyang.”
“Apa kau takut mati, To?”

Karto menoleh. Matanya sedikit tak nyaman mendengar pertanyaan Jupri.
“Mati itu menyakitkan. Aku tak mau mati dulu.”

Karto beranjak dari gubuk. Sebuah pondok tempat menyimpan keranda jenazah. Keluarga Jasen pun tampak meninggalkan makam. Tinggal Jupri yang masih menatap jejeran makam. Pikirannya beralih ke rumah sakit tadi pagi.

Saat melihat jejeran bayi yang baru lahir. Ia melihat para bayi yang menangis. Seakan menangisi hidup di dunia. Dan, sekarang ia penasaran bagaimana suara jenazah menyambut kehidupan di alam kubur.

Itulah penggalan cerpen berjudul Penggali Kubur karya Nurillah. Selengkapnya simak di koran Banjarmasin Post edisi Minggu (29/10/2017).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved