TOPIK

Cerpen BPost

  • Cerpen: Pantai Tatapan

    Datanglah! jika kau tak suka pasir, tak suka meski sedetik melihatnya, ayolah! Bayangkan yang lain, lalu datang ke pantai ini.

  • Cerpen: Kepergian Hujan

    Hujan terus saja riuh bercerita di sela-sela ia mencuci baju, menanak nasi, dan lalu membereskan dapur.

  • Cerpen: Kisah-Kisah Miris di Jalan Raya

    Pernah suatu malam, aku melihat kejadian paling miris yang membuat aku sempat berdoa agar segera dicabut Tuhan.

  • Cerpen: Pintu Belakang

    Maddasin seketika meloncat dari ranjang saat pintu rumah Monarie ada yang mengetuknya. Ia meringkuk di gelap pojok bawah ranjang.

  • Cerpen: Dosa: “Dia Ingin Bantai Kita

    Aku bertanya apa yang terjadi. Ayah menyuruhku diam. Tangannya di pundakku, dingin dan bergetar. Ada yang merayap di kaki kiriku. Aku merabanya.

  • Cerpen: Kalung dan Ular di Mata Triman

    Triman pun kemudian bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur. Sesekali menarik napas panjang sambil menatap Peni yang tengah tidur pulas.

  • Cerpen: Pembuat Batu-bata

    Dulkamit masih berdiri, menanti hujan reda. Istrinya sibuk memasak, dan tentu di sela-sela asap yang menyesaki dapur, ia lantunan doa kepada Tuhan.

  • Cerpen: Pak Samsuri

    Benar, Pak Jamal--orang yang mengaku-ngaku itu--adalah anak Mbah Tumi yang mewakafkan rumah dan tanah untuk awal-awal pembangunan panti.

  • Cerpen: Rumah yang Dikerubungi Air

    Perihal kepulangan itu terakhir kali terjadi ketika putri bungsumu menikah. Kamu ingat betul bagaimana dadamu berdegup kencang.

  • Cerpen: Penjaga Tanah

    Namun saat aku mengambil gelang tersebut, tiba-tiba air waduk berubah menjadi keruh dan air itu menarik tanganku.

  • Cerpen: Penggali Kubur

    Telah puluhan jenazah yang diperhatikan Jupri. Ada yang terasa sangat mudah saat menggali, persis menggali tanah liat.

  • Cerpen: Keputusan Bapak

    Dulu karena hanya bapak yang membawa kunci, aku pernah tidur di luar, karena bapak tidak kunjung pulang hingga fajar tiba.

  • Cerpen: Kue Pembuka Pintu Langit

    Setelah lewat waktu itu, tak akan ada kelinci-kelinci bersayap, meski manusia menengadah sepanjang sore, saat pintu langit sudah terbuka.

  • Cerpen: Jatah (karya Dian Nangin)

    Namun, menunggu dalam antrean itu tak serta merta membuatnya bosan, sebab ada sebuah layar yang cukup lebar terpasang jauh di depan.

  • Cerpen: Soal Keberanian

    “Masa dari 38 murid, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan segampang itu.” Mulai terjadi keributan di antara kami.

  • Cerpen: Batu di Kerongkonganku

    Tidak ada yang kurang. Kami sangat bahagia. Hanya saja, sampai saat ini belum ada juga celoteh manja dan tawa riang anak-anak mewarnai.

  • Cerpen: Seseorang Telah Membantai Dewi

    Sangat sulit dipercaya akhir dari persahabatan mereka adalah kematian oleh tangan sahabatnya sendiri.

  • Cerpen: JANGKRIK

    Aku mulai sering melihat jangkrik mendengkur di kamar ibu pada pagi hari sejak aku tumbuh jadi gadis ranum. Jangkrik itu berukuran sama dengan ibu. Ke

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved