Cerpen BPost
Cerpen: Pembuat Batu-bata
Dulkamit masih berdiri, menanti hujan reda. Istrinya sibuk memasak, dan tentu di sela-sela asap yang menyesaki dapur, ia lantunan doa kepada Tuhan.
BANJARMASINPOSt.CO.ID, BANJARMASIN - Kalau pagi hari hujan, lelaki bernama Dulkamit itu tidak akan pergi ke mana-mana. Ia lebih memilih duduk di teras rumah yang berlantai tanah, dengan cagak kayu yang tampak tua.
Menghembuskan asap rokok sembari memandang hujan yang identik dengan kenangan itu.
Pekerjaannya sama sekali tidak bersahabat dengan hujan. Pekerjaannya berteman dengan panas matahari. Maka
Dulkamit lebih suka matahari dari pada awan mendung yang menyimpan air hujan. Walau matahari telah membuat kulitnya gosong. Pekerjaannya ialah sebagai buruh pembuat batu-bata.
Ia bekerja di tempat Pak Soplo, yang untungnya baik hati, tidak pelit, pengertian dengan dirinya. Entah sudah berapa kali Dulkamit diberi bonus Pak Soplo ketika gajian tiba. Tidak terhitung jumlahnya. Dan memang Pak Soplo memberi bonus
Dulkamit bukan tanpa alasan. Tipe Dulkamit yang tekun, pekerja keras, dan bertanggung jawab, yang membuat Pak Soplo demikian.
Hujan mereda, jarum-jarum air yang tadinya besar berubah menjadi tipis sekali , Dulkamit tersenyum ceria. Ia melangkah ke dalam, mengambil cangkul, menyampirkan di pundaknya, tapi baru dua langkah kakinya melangkah dari teras rumah, hujan tiba-tiba menderas.
Dulkamit dengan sigap melompat ke teras dengan kaki tuanya. Ia membeku, membatu, membisu, menatap ruahan air hujan yang seperti marah, yang seperti tidak rela bila hari ini ia pergi ke area seluas sekitar seribu meter, tempat di mana ia bekerja.
Dulkamit masih berdiri, menanti hujan reda. Istrinya sibuk memasak, dan tentu di sela-sela asap yang menyesaki dapur, ia lantunan doa kepada Tuhan, supaya hujan tidak lama-lama menguasai, supaya hujan lekas reda.
Jika Dulkamit hari ini tidak mencetak batu-bata, itu berarti ia akan menunda satu hari gajian. Ya, sekali bekerja ia mencetak sekitar lima ratus potong batu-bata, dan ia akan gajian setiap batu-batanya mencapai lima ribu jumlahnya.
Kemarin ini ia menghitung sudah terkumpul empat ribu lima ratus. Dengan kata lain ia gajian sembilan hari yang lalu. Seharusnya hari ini gajian, akan tetapi kalau tidak berangkat? Harus diundur esok hari. Itu pun kalau besok tidak hujan.
Batu bata yang setengah matang akan—artinya belum dibakar—disusun menyerupai pagar. Lima ribu batu-bata kalau disusun sudah menjadi lima pagar. Dulkamit selalu menutupi pagar-pagar batu-batanya dengan plastik putih besar untuk jaga-jaga kalau malam hujan.
Tapi nyatanya hujan tidak merestui Dulkamit. Ia membayangkan pagar batu-batanya seumpama tidak ditutupi plastik.
Tentu sudah hancur lebur, besok seharusnya ia bisa membakar benda berbahan dasar tanah liat itu bersama batu-bata yang lain, yang terkumpul di rumah tanpa dinding yang ada di tengah sawahnya Pak Soplo, kalau semisal sekarang bisa membuat lima ratus batu-bata. Dulkamit mendesah, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan hujan.
Inilah penggalan cerpen berjudul Pembuat Batu Bata karya Risen Dhawuh Abdullah. Selengkapnya simak di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (03/12/2017).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ilustrasi-oleh-riza_20171202_200218.jpg)