Cerpen BPost
Cerpen: Kepergian Hujan
Hujan terus saja riuh bercerita di sela-sela ia mencuci baju, menanak nasi, dan lalu membereskan dapur.
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pagi itu hujan datang lagi. Langit mengantarkannya dengan keredupan yang merata. Suasana sempurna untuk membangunkan kesedihan-kesedihan yang hampir terlupa.
Dingin membuatnya terpaku sejenak. Kedua matanya menemukan tumpukan buku yang semalaman telah membuatnya terjaga.
Ia atur pernapasan, hingga hangat mulai menjalar dari dada. Kedua matanya memejam saat ia merasa ada yang memeluknya dari belakang. Menebarkan hangat yang lebih ke sekujur tubuh.
Namun ia harus lekas-lekas mengusir bayangan itu. Ia tak mau harinya dimulai dengan rasa sakit dipermainkan kenangan.
Ketukan pintu terdengar lagi. Seorang hujan ia dapati telah menggigil di sana.
“Kau, dari mana saja?” tanyanya ketika melihat hujan yang mulai bisa mengalahkan gigil. Suasana ruang tamu terlihat remang.
“Dari keliling kota.”
“Oya?”
“Seperti permintaanmu kemarin. Aku bawakan banyak catatan untukmu. Dari jalan-jalan beceknya, perumahan kumuhnya, tempat-tempat hiburannya, anak-anak jalanannya, dari orang-orang yang kesepian, dari orang-orang pentingnya…”
Hujan terus saja riuh bercerita di sela-sela ia mencuci baju, menanak nasi, dan lalu membereskan dapur.
Sampai cerita-cerita itu penuh menggenangi kepala, membuatnya tak betah lagi menyelesaikan pekerjaan, ingin segera mengurung diri dalam kamar. Hingga ia bisa dengan khusyuk membaui semua yang telah dibawakan hujan ke dalam kamar.
Dulu, ia takkan rela kesenangan yang seperti ini diganggu.
“Kenapa? Bukankah sekarang aku telah memiliki hak atas sebagian waktumu?” ujar perempuan itu, dengan nada manja.
Ia pun menjelaskan bahwa dia boleh saja menculiknya, pada saat makan bersama, cuci baju, mendengarkan radio (ia tak punya televisi lantaran tak suka), atau terutama saat di atas pembaringan.
Tapi perempuan itu justru semakin tak paham dan mulai membanding-bandingkan dirinya dengan lelaki lain.
Padahal sudah sejak awal perkenalan ia pernah bilang, bahwa dirinya tidak lah seperti kebanyakan orang. Bahkan lantaran sifat itulah ia lebih senang memilih tinggal di rumah ini, rumah paklik yang ditinggal merantau ke Kalimantan, yang letaknya jauh dari keluarga besar. Jauh dari jangkauan mulut orang-orang.
“Mengapa kau memilih sesuatu yang hasilnya bahkan tak cukup untuk membuatmu hidup layak?” perempuan itu mendadak ingin masuk ke dalam dadanya. Melihat apa yang tersimpan di sana.
Itulah penggalan cerpen berjudul Kepergian Hujan karya Adi Zamzam. Selengkapnya simak di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (07/01/2018).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ilustrasi-oleh-riza_20180106_195252.jpg)