Cerpen BPost
Cerpen: JANGKRIK
Aku mulai sering melihat jangkrik mendengkur di kamar ibu pada pagi hari sejak aku tumbuh jadi gadis ranum. Jangkrik itu berukuran sama dengan ibu. Ke
Oleh : Seto Permada
Aku mulai sering melihat jangkrik mendengkur di kamar ibu pada pagi hari sejak aku tumbuh jadi gadis ranum. Jangkrik itu berukuran sama dengan ibu. Kerapkali telentang di bawah selimut tebal dengan bentuk mulut menjijikkan.
Dua antena terkulai lemah. Ketika aku memergoki ibu dari sela pintu tengah bercakap-cakap dengan jangkrik kesayangannya, selalu aku disuruh pergi jauh-jauh—mencuci, memasak, atau mungkin mengelap kaca-kaca jendela yang selalu berdebu dari hari ke hari.
Tidak ada jangkrik sebesar itu ketika aku masih kecil. Ibu sering bilang, “Ini Ayahmu.” Dan, aku percaya begitu saja. Bahkan sangat bahagia, karena ibu sering membawa banyak ayah ke rumah. Bergantian. Tidak seperti anak lain yang cuma punya satu ayah seumur hidup.
Sejak dalam ayunan hingga bisa merangkak dan memasukkan bola plastik ke keranjang, yang aku tahu, ayah memang memiliki wajah berbeda-beda. Selalu bersikap manis padaku. Tak lupa tiap akhir kunjungan ke rumah, aku diberi permen lolipop. Aku disuruh mengisap hingga tandas gula-gulanya. Kata ayah, biar bibirku makin manis. Tak lupa pula mendaratkan ciuman ke pipiku yang lagi-lagi kata ayah, dengan diselingi tertawa, kenyal seperti agar-agar.
Ibu sangat boros. Tak cukup pakai lipstik saja perihal merias diri. Seolah ia merasa usianya yang memasuki kepala empat, mundur 20 tahun. Wadah peralatan kosmetik, seperti eye cleaner, maskara, blush on, eyeshadow, eyeliner, pensil alis, bedak padat, bedak tabur, pelembap wajah, cleanser—selalu aku yang merapikan, dan jika habis, aku pula yang membuang ke tong sampah depan rumah.
Aku sering bertanya pada ibu ketika ia tengah mematut di depan cermin seraya menyapu wajah: untuk siapa dia berdandan, padahal di rumah cuma ada aku dan dia.
“Ini untuk ayahmu. Jangan ganggu. Ibu lagi kerja.”
***
Selain ibu, aku tidak punya teman lagi. Suatu hari, aku disuruh ibu pergi ke Toko Haji Barokah untuk membelikannya beberapa jenis kosmetik yang kebetulan habis. Toko serba ada. Selain kosmetik, kami juga kerap beli berbagai bahan pangan di sana. Sampai-sampai Haji Barokah hafal dengan tubuh dan wajahku. Dan akhir-akhir itu, beliau bilang, kalau aku telah tumbuh jadi gadis yang subur dan cantik. Tentu saja, beliau memujiku saat tak ada Bu Haji di antara kami.
Ketika pulang, sekelompok pemuda yang tengah main domino di pos gardu bersiul-siul padaku. Aku tak peduli dan terus melenggang ke rumah. Kata-kata nakal sudah akrab dengan telingaku. Bahkan sangat akrab karena sering diucap ayah ketika merayu ibu. Kata-kata penuh sayang, menurutku. Aku tak pernah jijik dengan kata-kata itu. Justru amat bersyukur, Tuhan telah menurunkan kasih sayang di mana-mana.
***
Seekor jangkrik berbokong besar tengah memencet-mencet remote control. Ia duduk di kursi plastik dengan menyandarkan punggung. Matanya tak lepas dari figur telenovela yang asyik cubit-cubitan dengan kekasihnya. Awalnya kukira dia ayah, tetapi rupanya ibu. Aku mengenali dari bentuk suaranya yang keras dan kasar—lebih kasar daripada suara paku digosok ke permukaaan kaca—ketika menanyakan hasil berbelanjaku. Aku tidak tahu persisnya, sejak kapan ibu berubah jadi jangkrik yang sama menjijikan dengan ayah.
Malam itu ada lima jangkrik di kamar ibu. Bentuk mulut mereka aneh-aneh. Aku memekik dan melaporkan pada ibu agar mengusir mereka dari rumah.
“Bu, mereka siapa? Bau mereka busuk!”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/bpost-cetak_20170326_082428.jpg)