Cerpen BPost

Cerpen: JANGKRIK

Aku mulai sering melihat jangkrik mendengkur di kamar ibu pada pagi hari sejak aku tumbuh jadi gadis ranum. Jangkrik itu berukuran sama dengan ibu. Ke

Editor: Ernawati
Banjarmasin Post edisi cetak, Mnggu (26/3/2017). 

“Mereka ayah-ayahmu. Ssstttt. Jangan berisik. Mereka sedang tidur.”

“Mereka bukan ayah. Mereka jangkrik-jangkrik kumuh dan menjijikkan!”

Mata ibu melotot.

“Sekarang ibu juga jangkrik. Sama seperti mereka!”

Malam itu aku tidak bisa tidur. Bibir manisku yang selalu dikagumi ayah pecah. Untuk pertama kalinya, aku tidak mengenali ibu lagi malam itu. Dia lebih memilih berselingkuh dengan jangkrik kumuh dan busuk daripada aku, anaknya sendiri. Aku kasihan dengan ayah. Ayahku selalu bersikap manis dan wangi. Aku memeluk guling begitu erat sambil membayangkan benda hangat itu adalah ayah.

***

Pada suatu pagi yang tak kumengerti, aku mematung di depan ayah. Tentu saja dia salah satu ayah dari ayah-ayahku yang lain. Berulangkali ia memuji wajahku yang semakin ayu. Pinggulku yang semakin berisi dan padat. Dan ia juga menunjuk-nunjuk dadaku. Aku menolak ketika ia memintaku membuka kancing baju. Kemudian ayah membujukku agar aku mau dengan kata-kata manis dan nakal. Kalau aku mau, aku akan diberi lolipop lagi. Aku boleh mengisap lolipop kapan pun aku mau. Akan tetapi, saat itu aku menggeleng penuh.

“Tidak, Ayah. Aku tak mau lolipop. Aku sudah besar. Lolipop cuma buat anak kecil.”

Mendung di langit pagi itu semakin tebal. Jangkrik yang ada di depanku membusuk baunya. Tangan-tangannya yang ringkih mencengkeram lenganku. Liurnya berjatuhan menyapu wajahku. Bacin. Mulutnya yang menjijikan berkerumit. Aku mendengar suara jangkrik-jangkrik lain—sepuluh suara bergantian—di kamar ibu.

Di belakang ayah ada sebuah kaca besar. Dan, sanalah seorang gadis ranum, wajahnya berubah jadi seekor jangkrik secara perlahan. Aku terus menyangkal, bahwa gadis itu bukanlah aku.

Aku memejamkan mata, mengenyahkan dunia yang dipenuhi binatang ini dari dalam mata dan pikiranku seakan-akan aku terlahir ke dunia bukan karena ibu dan ayah. (*)

*Seto Permada atau Muhammad Walid Khakim. Kelahiran Purworejo, Oktober 1994. Karya cerpennya berupa antologi bersama Ritual Lapaong Astral (TBJT, 2016), Cinta Laki-laki Biasa (ANPH, 2016), dan Akuarium Melankolia (Ganding Pustaka, 2016). Tinggal di Desa Brunosari, Purworejo

Cerpen ini dimuat di harian Banjarmasin Post edisi cetak hari ini, Minggu (26/3/2017).

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved