Menanti Eksekusi Mati Gembong Narkoba

Ironisnya barang haram yang diangkut KM 61870 Penuin Union itu adalah kapal kedua yang ditangkap selama dua pekan terakhir

Menanti Eksekusi Mati Gembong Narkoba
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

INDONESIA mengalami peningkatan volume impor. Sayangnya, barang yang masuk justru yang sangat-sangat terlarang. Pekan lalu, misalnya, sebanyak 1,6 ton narkotika jenis sabu masuk ke Kepulauan Riau. Untungnya, aparat gabungan kepolisian dan Bea Cukai berhasil menggagalkan sabu asal Myamar yang diangkut oleh kapal berbendera Singapura itu.

Ironisnya barang haram yang diangkut KM 61870 Penuin Union itu adalah kapal kedua yang ditangkap selama dua pekan terakhir. Sebelumnya---masih di kawasan Kepulauan Riau, tepatnya di perairan Batam– pada 7 Februari 2018, TNI AL mengamankan MV Sunrise Glory yang mengangkut 1 ton sabu.

Kita tentu meyakini masih banyak kapal yang membawa bubuk setan yang berhasil lolos dari sergapan aparat. Yang pasti, masuknya narkoba ke Indonesia tentunya dilakukan secara sistematis oleh kartel-kartel narkoba internasional.

Faktanya, kasus penyalahgunaan narkotika di negeri ini pun tidak pernah sepi. Ibarat pepatah; mati satu tumbuh seribu. Hampir tiap hari para bandar dan kurir yang berhasil ditangkap, selalu muncul pelaku-pelaku lainnya. Harus kita akui kejahatan model seperti ini tidak berdiri sendiri. Selain jaringan (kartel-kartel) di luar sana sebagai pemasok, tentunya peran kaki tangan mereka yang ada di negeri ini. Para gembong narkoba yang berada di penjara masih bisa mengendalikan peredaran bubuk setan tersebut.

Tak heran kalau Komjen Budi Waseso (Buwas), Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) begitu geram lantaran para gembong narkoba yang telah divonis mati masih bisa mengendalikan bubuk haram tersebut. Ini tentunya menjadi pertanyaa buat Jaksa Agung yang berwenang mengeksekusi mati, belum juga melaksanakan perintah pengadilan.

Kita tentu masih inggat pada 2016, 10 gembong narkoba tiba-tiba disuruh balik badan dari tiang eksekusi mati. Hingga tahun 2017, tak satu pun gembong narkoba yang menghadapi regu tembak. Fakta yang makin bikin geram, Toge, datu gembong narkoba yang mengantongi dua vonis mati dan putusan 12 tahun penjara, hingga kini masih tidur nyenyak di selnya di Lapas Tanjung Gusta Medan dan masih bisa memasok barang-barang haram dari luar ke Indonesia.

Alih-alih mengurangi atau memberangus habis peredaran, aparat kejaksaan sebagai eksekutor tak juga mengeksekusi para gembong. Jaksa Agung M Prasetyo selalu berkelit ditanya soal eksekusi mati para gembong narkoba. Kita tentu bertanya-tanya mengapa jaksa agung tak bernafsu menyerahkan para gembong narkoba ke depan regu tembak.

Seharusnya, dia melihat fakta riil yang terjadi di negeri ini. Kalau memang jaksa agung terganjal oleh hak asasi manusia (HAM), tentunya harus berpikir bagaimana nasib generasi muda negeri ini terus dicekoki oleh para gembong narkoba yang masih dibiarkan mengatur dan memasok narkoba dari luar sana. Dan, berton-ton serbuk setan terus membanjiri negeri ini. Sampai kapan? (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved