Isra Miraj 2018
Isra Miraj 2018 - Manuskrip Isra Miraj: 'Tour Teristimewa Rasulullah'
Isra dan Miraj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja.
BANJARMASINPOST.CO.ID - RAJAB merupakan bulan mulia di sisi Allah. Di dalam bulan ini terjadi peristiwa penting pada masa hidup Rasulullah, yaitu Isra dan Miraj. Isra dan Miraj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja.
Isra merupakan peristiwa “diberangkatkan” Nabi Muhammad oleh Allah dari Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsa Jarussalem Palestina. Sedangkan Mi’raj peristiwa Rasulullah dinaikkan ke langit dari Masjid Al-Aqsa.
Jumhur ulama dan sebagian sejarawan Muslim menyebutkan bahwa peristiwa penting tersebut terjadi pada bulan Rajab setahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Menurut riwayat perjalanan beliau menggunakan kendaraan buraq, ditemani oleh Jibrail dan para malaikat lainnya.
Baca: Amalan Bulan Rajab Menurut Habib Muhammad bin Yahya di Pengajian Peringatan Isra Miraj
Dari tempat kiblat pertama ini nabi dinaikkan ke langit, sebagian rawi menyebut batu pijakan Nabi saat naik seakan juga ingin ikut terbang bersamanya, dan kini ia menjadi saksi kehadiran manusia paling mulia di tanah para Anbiya.
Ini merupakan paket “tour” teristimewa yang diterima Rasulullah, dan dapat menyaksikan langsung tentang surga dan neraka serta segala kehidupan di luar naluri dan pikiran manusia. Keistimewaan tersebut hanya diberikan kepada nabi terakhir di saat hatinya berduka paska meninggal Abu Thalib dan istrinya Khadijah, dua tokoh yang membantu nabi dari rongrongan kaum Qurays selama di Mekkah.
Dalam masyarakat Aceh dan Nusantara, peristiwa Isra dan Mi’raj merupakan cerita umum dan menjadi santapan wajib bagi para pelajar. Ia memiliki banyak hikmah dan pelajaran di dalamnya, mulai dari perjuangan Rasulullah hingga kasih sayangnya kepada ummat Islam.
Dalam kehidupan masyarakat Aceh, kisah Hikayat Isra dan Mi’raj menjadi bacaan penting pada bulan Rajab oleh para tengku dan da’i di Aceh. Hal tersebut diungkapkan dalam pendahuluan teks manuskrip Hikayat Mi’raj koleksi Museum Aceh “barang siapa membaca dan mendengar Hikayat Mi’raj Nabi maka ia berpahala dan akan diampuni dosanya”. Sebaliknya, “barang siapa tiada percaya akan peri bagi Mi’raj ini bahwasanya orang itu menjadi kafir”.
Naskah Hikayat Mi’raj ini bukan sebuah dongeng kepada anak-anak, tetapi hikayat tersebut ditulis dalam bahasa Jawi (Melayu) disertai dalil-dalil kuat dari al-Qur’an dan Hadits. Tidak ketinggalan disertakan atsar para sahabat akan peristiwa tersebut.
Kado Spesial
Kado istimewa yang diterima Nabi dalam Isra dan Mi’raj adalah perintah shalat lima waktu sehari semalam merupakan kado terindah yang diterima Nabi Muhammad. Beberapa riwayat hadist menyebutkan peristiwa perintah ini diterima Nabi langsung dari Allah.
Shalat wajib merupakan kunci surga, ia tidak dapat diwakilkan, tidak dibadal ataupun dibayar dengan apapun. Shalat juga sebagai wujud tunduknya seorang hamba kepada Sang Khaliq, shalat juga merupakan simbol kerukunan dan persatuan ummat Islam, sekaligus ia penangkal dari perbuatan keji dan mungkar. Menurut Nabi, ibadah ini memiliki rahasia inti yang dapat diungkapkan oleh orang-orang yang khusuk dan tidak lalai akan shalatnya.
Pada masa Rasulullah dan Khalifah Rasyidin menunjukkan persatuan ummat Islam yang cukup kuat, terjalinnya ukhuwah dan persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin, orang Arab dan ‘Ajam. Setiap khilafiyah (perbedaan) diselesaikan secara berjamaah dan bersama-sama, seiring sejalan seperti gerakan jamaah shalat yang mengikuti Sang Imam.
Maka wajar apa yang disebut dalam naskah “Rahasia Shalat” bahwa “Itulah yang sebenar2 sembahyang hai ya ikhwan. Takoeh buloeh ikat panjoe # Mangat meuri jrat auliya. Wajib bak insan mengenal droe # Mangat taturi haq Ta'ala”.
Sayangnya, kini sebagian ummat Islam belum mampu memahami nilai-nilai ibadah dan sosial (ukhuwah Islamiyah) yang terkandung dalam shalat. Terjerumus dalam persoalan khilafiyah furu’iyah dan kepentingan kelompok dalam “kapling surga” sehingga mengabaikan ukhuwah Islamiyah sesama mukmin. Padahal para Khulafa Rasyidin, Tabi-tabi’in dan para Imam-imam pasca wafatnya Rasulullah telah menunjukkan sikap kerukunan dan toleransi antar sesama.
Abu Bakar vs Abu Lahab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/naskah-koleksi-museum-aceh_20180411_092535.jpg)