Desa Panjaratan Dikenal Karena Bekantan
Profesor Asal Australia Kaget, Keberadaan Bekantan Bisa Terancam Karena Ini
Prof Tim Robert dari Universitas News Castle, Australia mengaku kagum setelah melihat langsung keberadaan bekantan
Penulis: Mukhtar Wahid | Editor: Restudia
BANJARMASINPOST.CO ID, PELAIHARI - Ada sejumlah dosen dan mahasiswa dari Universitas Lambung Mangkurat, selaku pendamping selama para mahasiswa dan dosen luar negeri berada di Kabupaten Tanahlaut.
Prof Tim Robert dari Universitas News Castle, Australia mengaku kagum setelah melihat langsung dengan keberadaan satwa bekantan di Desa Panjaratan.
Ia melihat keberadaan satwa itu terancam aktivitas perkebunan kelapa sawit yang dinilainya sangat dekat dengan bantaran sungai Panjaratan.
"Harusnya 500 meter dari hutan tempat para satwa bekantan mencari makan," katanya.
Baca: Keluarga Akhirnya Ikhlas Melepas Rizki Ahmad Setelah Didatangi Habib, Bendera Hijau Pun Berkibar
Sebelumnya rombongan itu menikmati kegiatan kelompok tani hutan di Kelurahan Karangtaruna, Kecamatan Pelaihari atau sekitar lima kilometer dari ibukota Kabupaten Tanahlaut dan sekitar 15 kilometer dari Desa Panjaratan.
Selama di Kelurahan Karangtaruna, rombongan itu melihat, belajar dan mengenali cara memanen buah sawit, menyadap karet, memanen ternak lebah dan menari bersama kesenian Kuda Mumpung Trans Telaga.
"Di negara mereka tidak pernah bagaimana memanen buah sawit, menyadap karet, memanen ternak lebah. Kegiatan itu sangat disenangi turis asing, temasuk susur sungai melihat satwa langka bekantan," ujar Abdi Fithria, dosen Universitas Lambung Mangkurat.
(Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/susur-sungai-melihat-satwa-langka-bekantan-sangat-disenangi-turis-asing_20180712_133519.jpg)