Penobatan Sultan Pagaruyung

Penobatan Sultan Pagaruyung Berlangsung Khidmat dan Meriah

Penobatan Sultan Pagaruyung Berlangsung Khidmat dan Meriah, dipusatkan di Istana Silinduang Bulan Kecamatan Tanah Datar, Kota Bayusangkar, Sumbar

Tayang:
Editor: Royan Naimi
istimewa
Penobatan Sultan Pagaruyung Minangkabau yang baru, yaitu DR Muhammad Farid Thaib Raja Alam Darul Qorar, dihadiri pula SUltan Banjar H Khairul Saleh selaku Ketua Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara dan anggota Dewan Agung Majelis Raja Sultan Indonesia. 

Di masa lalu kerajaan kesultanan menanamkan nilai nilai adiluhung yg bercorak melayu islam, dan sekarang ia menjadi salah satu daya tarik wisata, khususnya wisata sejarah dan budaya.

Meskipun suatu daerah tidak kaya sda, tetapi kalau kebudayaannya dikelola dengan baik maka ia akan mendatangkan PAD yang besar.

Baca: Hilang saat Gempa dan Tsunami di Palu, Atlet Paralayang Ini Sempat Posting Foto Ini

Sebagaimana sambutan bupati Tanah Datar dalam acara ramah tamah malam sebelumnya, wisatawan terus bedatangan ke Tanah Datar sebab ada wisata sejarah dan budaya di dalamnya, yaitu Istana Pagaruyung dengan kekayaan budayanya.

Oleh karena itu pemerintah daerah tidak ragu untuk mendukung kerja-kerja budaya yang dilaksanakan oleh pihak kesultanan, termasuk mendukung penuh pembangunan istana yang baru terbakar dan menyediakan APBD untuk pengelolaan rutin.

Acara penobatan Sultan Pagaruyung kali ini berlangsung sangat meriah, juga tak lepas dari dukungan raja sultan khususnya di kawasan Sumatera Barat. Sudah menjadi tradisi sejak lama mereka saling bantu, baik dengan materi maupun uang.

Baca: Update Korban Gempa dan Tsunami di Palu-Donggala, 410 Jenazah Dievakuasi, Teridentifikasi 97 Orang

Bantuan paling sering adalah berupa kerbau untuk disembelih dan dagingnya dimakan bersama rakyat. Kerbau juga simbol perhormatan dan keperkasaan sultan yang dilantik.

Tradisi saling bantu dan selalu kompak ini tidak terlepas dari prinsip Minang Saiyo Sakato dan Sakato Alam. Agama menyuruh saling bantu dalam kebaikan dan adat melaksanakan. Pribahasa setempat mengatakan, Sara Mangato, Adat Mamakai.

Tak hanya sesama raja sultan yang saling bantu, tapi rakyat juga ikut berpartisipasi. Ada juga yang memberi kambing, ayam, itik, telur, beras, sayur, buah-buahan dan l;ain-lain disertai bantuan tenaga.

Tidak kurang 300 orang rakyat ikut bekerja mensukseskan acara. Dengan begitu beban dari keluarga raja sultan tidak terlalu berat, begitu seterusnya mereka bekerja secara bergiliran seperti arisan. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved