Pembibitan Modern Kultur Jaringan Banjar

Pengembangbiakan Tanaman Lewat Kultur Jaringan Ternyata Media Tumbuhnya Menggunakan Ini

Teori ini mempercayai bahwa tiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup.

Penulis: BL Roynalendra N | Editor: Elpianur Achmad
banjarmasinpost.co.id/idda royani
Petugas menyiapkan peralatan pengaduk yang dipakai dalam pembiakan menggunakan kultur jaringan 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi  aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.

Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif. Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu.

Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro, berarti di dalam kaca karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu.

Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah totipotensi. Teori ini mempercayai bahwa tiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup. Karena itu, semua organisme baru yang berhasil ditumbuhkan akan memiliki sifat yang sama persis dengan induknya

Baca: Kembangbiakkan Pisang dan Anggrek Bulan Lewat Kultur Jaringan, Ini Target Pemkab Banjar

Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan jarjngan yang dibiakkan. Hal yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuh yang steril.  Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan.

Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya.

Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar agar (agarosa) dimana nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan.

Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda komposisinya. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplam yang ditumbuhkan secara in vitro.

Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro, mikro, dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. 

Nutrien yang tersedia di media berguna untuk metabolisme, dan vitamin pada media dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah sedikit untuk regulasi. Pada media MS, tidak terdapat zat pengatur tumbuh (ZPT) oleh karena itu ZPT ditambahkan pada media (eksogen). 

Baca: Pembibitan Modern Kultur Jaringan di Banjar Ditangani Empat Orang Berkemampuan Otodidak

ZPT atau hormon tumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Interaksi dan keseimbangan antara ZPT yang diberikan dalam media (eksogen) dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur.

Penambahan hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh  pada jaringan parenkim dapat mengembalikan jaringan ini menjadi meristematik kembal. Lalu berkembang menjadi jaringan adventif tempat pucuk, tunas, akar maupun daun pada lokasi yang tidak semestinya. 

Proses ini dikenal dengan peristiwa dediferensiasi. Ini ditandai dengan peningkatan aktivitas pembelahan, pembesaran sel, dan perkembangan jaringan.

Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap pembentukan kalus.

Tunas bonggol pisang dimasukkan ke botol khusus menjalani tahap pengadukan selama 24 jam. Tahap ini bertujuan menghilangkan fungi (jamur).
Tunas bonggol pisang dimasukkan ke botol khusus menjalani tahap pengadukan selama 24 jam. Tahap ini bertujuan menghilangkan fungi (jamur). (banjarmasinpost.co.id/idda royani)

Ada beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan. Pertama, jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved