Yayasan Adaro Bangun Negeri
Mengapa Harus Mengenal Sains?
Apakah sains hanya urusan fisikawan, biologi, bidang kedokteran, atau ahli kimia semata? Dan kita, sebagai awam, tidak perlu peduli?
Penulis: Dony Usman | Editor: Elpianur Achmad
BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Secara sadar atau tidak sains adalah kebutuhan dalam segenap sendi kehidupan, tanpa terkecuali. Apakah sains hanya urusan fisikawan, biologi, bidang kedokteran, atau ahli kimia semata? Dan kita, sebagai awam, tidak perlu peduli?
Sebagian orang barangkali berpikiran bahwa, sains sesuatu yang ilmiah, rumit, dan akademis. Pendapat ini ada benarnya sepanjang sains ditempatkan dalam koridor akademis, seperti ketika dibicarakan di ruang-ruang kuliah, dipraktikkan di laboratorium, dipresentasikan di seminar, serta ditulis di jurnal-jurnal penelitian.
Dalam konteks ini, pembicaraan mengenai sains berlangsung mengikuti aturan yang disepakati komunitas ilmiah.
Tanpa harus mengikuti kaidah seketat yang dianut para ilmuwan, sebagai awam kita patut untuk peduli terhadap sains, sebab setiap gejala atau peristiwa alam menyangkut kehidupan kita sebagai manusia—setiap orang.
Ketika kita menyantap semangkuk Soto, di dalamnya ada proses kimia (merebus ayam & telornya, mengukus kentang & wortel, membuat bumbu), ada proses biologi (saat kita mengunyah, mencerna, yang melibatkan aktivitas pengeluaran enzim), bahkan sebelum itu para petani melakukan proses-proses yang melibatkan sains untuk menyediakan aneka bahan membuat Soto.
Beragam peristiwa alam yang kita jumpai sejak membuka mata hingga terlelap, sejak lama menjadi obyek rasa ingin tahu manusia: peredaran matahari dan bulan, terjadinya pelangi, gempa yang mengguncang, gunung vulkanik yang silih berganti meletus, hingga akhir-akhir ini cuaca yang begitu mudah berubah dari panas terik ke hujan yang dingin. Itulah keragaman yang kita jumpai di alam semesta, tempat kita menghirup udara, minum, hingga berjalan kaki.
Sains penting untuk dikenal sebab memengaruhi banyak aspek kehidupan kita sehari-hari. Sains bukan sekedar sarana untuk memahami misteri alam semesta, termasuk diri kita sendiri, tapi sains telah dan akan terus digunakan baik untuk bertani, bercocok tanam, mengolah makanan, mengobati yang sakit, transportasi dari satu tempat ke tempat lain, menyediakan energi untuk berbagai kebutuhan, hingga untuk kesenangan—menyelam ke kedalaman lautan untuk menikmati panorama bawah laut juga memerlukan sains.
Ketika kita tidak mengenal sains (tanpa harus mencapai kedalaman yang dimiliki para ilmuwan), kita mungkin menjadi warga yang tidak mempedulikan dampak pembuangan sampah sembarangan terhadap lingkungan. Saat berada dipasar-pasar tradisional, kita dipaksa untuk menghirup udara buruk yang tercemar oleh bau sampah yang mengendap.
Oleh sebab itulah, mengenal sains sebenarnya bukan gaya hidup, melainkan kebutuhan dan bahkan keharusan.
Dengan sains, kita berusaha memahami alam semesta tempat kita hidup serta makhluk yang ada di dalamnya.
Dengan sains, kita dapat mengenal diri lebih dekat, bagaimana tubuh kita bekerja, bagaimana tubuh berinteraksi dengan lingkungan, meskipun banyak hal dalam diri kita tetap misterius dan bahkan sebagiannya belum mampu dijelaskan melalui sains.
Maka dari itu kemajuan sebuah negara cenderung dipengaruhi oleh pembudayaan sains yang diaplikasikan di negara tersebut.
Tak jarang setiap mahluk hidup selalu beradaptasi dengan hal baru dan menciptakan sesatu yang praktis untuk mempermudah aktifitas yang ia jalani.
Semua itu didapatkan melalui proses berpikir kristis dan riset awal hingga menjadi sebuah produk, hal tersebut merupakan bagian dari cara berpikir saintis.
Hal inilah yang mendorong Yayasan Adaro bangun Negeri (YABN) untuk terus menjalankan program sains dengan metode inquiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/yabn-mengenal-sains.jpg)