Tajuk
Media Konvensional Penangkal Hoaks
Di tengah gempuran era digital, media diharapkan jadi penjernih informasi dan memverifikasi informasi.
BANJARMASINPOST.CO.ID - HARI Pers Nasional (HPN) 2019 diperingati pada 9 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Mengangkat tema “Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital”.
Pada kesempatan itu, Presiden Joko Widodo memberikan pandangan prositif untuk media konvensional (media cetak) tetap bisa bertahan di era digital.
Namun tak dipungkiri, industri media cetak satu persatu berjatuhan. Tabloid Bola yang terbit pertama kali pada 3 Maret 1984, akhirnya tutup pada 26 Oktober 2018.
Majalah Fortune merupakan majalah bisnis nasional yang terbit mulai 2010 di Indonesia, setop edar sejak 2017 lalu.
Majalah Hai terbit 5 Januari 1977 menggantikan majalah MIDI, namun majalah Hai tidak lagi cetak mulai bulan Juni 2017.
Media konvensional menurut Jokowi bisa tetap bertahan dengan cara terus membangun optimisme dan mengungkap kebenaran masyarakat dalam pemberitaan .
Di sisi lain fungsi kontrol sosial dan pemberi kritik konstruktif kepada negara juga harus dipertahankan.
Ia meminta media tetap menjaga kepercayaan masyarakat dan menjadi salah satu sumber referensi terpercaya untuk masyarakat.
Di tengah gempuran era digital, media diharapkan jadi penjernih informasi dan memverifikasi informasi.
Masyarakat kini semakin mudah mengakses dan menerima informasi yang bisa didapat hanya dalam hitungan detik. Termasuk beredarnya berita hoaks di dunia maya yang muncul dan berdampak pada keresahaan masyarakat sebagai penerima informasi.
Di sinilah peran media konvensional menangkal hoaks sebagaimana diungkapkan Pemimpin Umum Banjarmasin Post, HG (P) Rusdi Effendi AR yang menerima penghargaan Lifetime Achievment Award (LAA) pada puncak HPN 2019.
Menurutnya, keberadaan media konvensional akan tetap berkembang di tengah gempuran media online dan elektronik. Dengan syarat, tetap menjaga konsistensi dan profesionalitas. Menyajikan berita berimbang dan transparan sebagai kekuatan media konvensional.
Hal tersebut juga bisa jadi kekuatan melawan berita hoaks yang tersebar di media sosial.
Ingat, ciri hoaks menurut Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, adalah mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian pada masyarakat.
Kemudian ketidakjelasan sumber beritanya. Isi pemberitaan tidak berimbang dan cenderung menyudutkan pihak tertentu. Serta bermuatan fanatisme atas nama ideologi.
Masyarakat harus bisa memilah dan memilih dalam mencerna isi berita yang tersebar melalui media sosial.
Pada akhirnya, media konvensional tetap menjadi referensi solusi bagi masyarakat yang ingin menyimak berita aman dari hoaks. Itu karena kekuatan media konvensional yang mengangkat fakta secara transparan, berimbang dan dari sumber yang dikonfirmasi kebenarannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/informasi-hoax-mengatasnamakan-kementerian-panrb_20180517_120013.jpg)