Berita Tapin

Raih Sertifikat Halal MUI, Junaidi Tak Waswas Pasarkan Abon Cabai Hiyung

Junaidi, petani cabai Hiyung mengaku tak merasa waswas lagi memasarkan produk olahan abon cabai Hiyung.

Raih Sertifikat Halal MUI, Junaidi Tak Waswas Pasarkan Abon Cabai Hiyung
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Abon Cabai Hiyung produksi kelompok tani cabai Karya Baru di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Senin (4/3/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Junaidi, petani cabai Hiyung mengaku tak merasa waswas lagi memasarkan produk olahan abon cabai Hiyung.

Itu karena sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia yang menandai abon cabai Hiyung layak dikonsumsi umat muslim sudah diterimanya, belum lama ini.

"Alhamdulillah sudah kami terima. Prosesnya hanya empat bulan saja sejak diusulkan untuk disertifikasi sebagai produk halal dan baik untuk dikonsumsi," katanya dikonfirmasi reporter Banjarmasinpost.co.id, Senin (4/3/2019).

Junaidi mengaku hanya memerlukan waktu empat bulan menunggu sejak diusulkan untuk disertifikasi halal.

"Ini berkat bantuan Dinas Perindustrian Kabupaten Tapin yang mendampingi proses sertifikasi halal abon cabai Hiyung," ujar lelaki yang menjabat Sekretaris Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin ini.

Baca: Hasil Arema FC vs Barito Putera di Piala Presiden 2019 Live Indosiar, Skor 0-0 di Babak Pertama

Baca: Pemprov Pastikan Hanya Akan Sumbang Fisik bukan Penyertaan Modal ke Intan Banjar, ini penjelasannya

Junaidi mengaku abon cabai Hiyung, adalah produk olahan yang bahan bakunya dari cabai Hiyung. Setiap panen cabai, pihaknya membeli dengan petani cabai di Desa Hiyung dengan harga pantas.

Pengolahan abon cabai Hiyung itu, jelasnya dikerjakan kelompok tani Karya Baru yang beranggotakan 26 orang saja.

Saat ini hanya melayani pesanan abon cabai Hiyung karena keterbatasan bahan baku cabai. "Setiap produksi abon cabai hanya sekitar 150 botol isi 35 gram saja," katanya.

Awal mula membuat abon cabai Hiyung itu karena harga jual cabai saat panen 2015 lalu, anjlok di pasaran hanya laku dibeli Rp 6000 per kilogram.

"Melihat kondisi demikian kami mengeluh dan dipertemukan Dinas Pertanian Kabupaten Tapin dengan perusahaan pertambangan batu bara," katanya.

Halaman
12
Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved