Mutara Ramadhan 2019

Merangkai Kepingan Asa

Tradisi buka puasa bersama saat Ramadan pada masyarakat Indonesia tergolong unik. Keunikannya ada pada muatan budaya lokal yang sangat kental.

Merangkai Kepingan Asa
capture/BPost Edisi cetak
Mutiara ramadhan 2019, KH Cholil Nafis 

Karena itu, pahitnya hubungan gara-gara beda pilihan politik memang harus segera diakhiri. Tidak ada enaknya "bertengkar" dan saling sindir gara-gara pilihan politik berbeda.

Pilihan politik adalah perspektif. Cara pandang bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilakukan lebih baik. Spiritnya sama, yaitu negara dan bangsa ini harus dikelola secara baik, jujur, transparan, adil, dan hasilnya untuk kepentingan rakyat.

Bersaudara
Ramadan, bulan yang penuh hikmah, bulan yang menawarkan banyak wisdom (kearifan). Sudah saatnya bulan suci ini dimanfaatkan untuk merenung kembali atas panas-dinginnya hubungan sesama muslim yang berbeda pilihan politik.

Ramadan adalah bulan penuh rahmah (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan). Mari kita memuliakan bulan puasa ini untuk mencairkan suasana yang kaku. Meleburkan hati-hati yang terpisah. Menyatukan kepingan-kepingan rasa yang terserak.

Bukankah Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa sesama muslim adalah saudara yang tidak boleh saling bertikai. Bahkan ada larangan bertengkar antar sesama manusia.

Batasan toleransinya hanya tiga hari. Artinya, haram hukumnya tidak bertegur sapa sesama muslim lebih dari tiga hari seperti Hadits Nabi sebagai berikut: Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Raslullah saw bersabda: "Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, jangan saling membelakangi, jangan saling bermusuhan, jangan saling hasut. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak bertegur sapa dengan saudaranya di atas tiga hari." (HR Muttafaq `alaihi).

Waktu toleransi tiga hari diasumsi sebagai masa untuk merenung dan mengevaluasi hubungan, untuk kemudian diperbaiki kembali demi kepentingan ukhuwwah (persaudaraan). Persaudaraan adalah wujud dari pengamalan sosial ajaran agama itu sendiri.

Tidak ada agama yang mengajarkan perpecahan karena dapat merusak sendi-sendi kehidupan. Dalam Alquran disebutkan: "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS: 49: 10).

Sebagaimana halnya saudara kandung. Suka atau tidak, saat kita dilahirkan dari rahim ibu yang sama, otomatis kita bersaudara. Meskipun kadang antara saudara sedarah tidak memiliki kecocokan sifat sehingga sering menimbulkan percekcokan. Tapi percayalah sesama saudara kandung, sedarah atau serahim tidak sepantasnya bermusuhan.

Sama juga halnya sesama muslim, Allah sendiri yang menegaskan bersaudara. Penegasan ini bukan tanpa makna, tetapi memiliki maksud sangat mulia. Dalam ayat ini Allah tidak menyebut ashdiqaa' (kawan atau sahabat), tapi Allah menyebut "ikhwah" (saudara). Pastinya ikatan persaudaraan jauh lebih mendalam jika dibandingkan dengan ikatan pertemanan. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved