Tajuk

Menuju 22 Mei

Dinamika politik Tanah Air kembali menghangat. Tinggal beberapa hari lagi, tanggal 22 Mei 2019

Menuju 22 Mei
Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan
Jelang 22 Mei 2019 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dinamika politik Tanah Air kembali menghangat. Tinggal beberapa hari lagi, tanggal 22 Mei 2019, waktu yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mengumumkan hasil perhitungan suara baik Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun pemilihan anggota legislatif (pileg).

Dibanding Pileg, suasana, hawa dan ‘perseteruan’ antara dua kubu pilpres lebih hangat. Sampai detik ini, aroma ketidakpuasan, perlawanan, tudingan kecurangan, hingga muncul gerakan untuk melakukan People Power, menambah panas hawa politik jelang 22 Mei 2019.

Belum bisa dibayangkan, apa yang terjadi pada 22 Mei 2019 itu atau setelahnya. Jika melihat hasil rekapilutasi sementara Situng KPU Jumat (17/5/2019) pagi, dengan suara masuk 86 persen, pasangan Capres Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amien unggul 15,6 juta suara dibanding pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mengutip dari situs pemilu2019.kpu.go.id, pasangan Jokowi-Ma’ruf memperoleh 73.804.946 suara (56,01 persen) sementara Prabowo-Sandiaga 57.974.688 suara (43,99 persen).

Secara logika, rasanya sulit pasangan nomor urut 02 untuk membalikkan keadaan, lalu mengungguli perolehan suara paslon 01. Sebab, tinggal sekitar 14 persen suara yang belum masuk dihitung secara nasional. Apalagi mengacu pada kebiasaan perhitungan suara pemilu-pemilu terdahulu, jika suara masuk sudah di atas 75 persen, persentase perolehan cenderung stabil atau tak berubah jauh.

Baca: Asus Luncurkan Produk Baru, Begini Perubahan Desain dan Kamera Asus ZenFone 6

Baca: Sering Cekcok, Setelah Rujuk Akhir 2017, Tata Janeeta Mantap Menggugat Cerai Mehdi Zeti

Baca: Raih Posisi Dua Tercepat di FP1 MotoGP Prancis, Dovizioso Merasa Belum Puas, Begini Alasannya

Sementara itu, dalam perjalanan menuju 22 Mei 2019, Badan Pemenangan nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga cenderung tidak mau menerima hasil perhitungan suara Pilpres, cenderung menolaknya, meskipun menerima hasil Pileg. Begitu pula untuk menyelesaikan sengketa Pilpres di Mahkamah Konsitusi (MK), BPN tidak mau mengikuti cara konstitusional itu meskipun sebagian partai pendukung tak sependapat.

Sangat disayangkan, jika kondisi ketidakpercayaan ini terus berlangsung, masyarakat Indonesia akan berada dalam ketidakpastian. Harusnya, semangat yang dibangun dalam kontestasi baik pilkada, pileg maupun pilpres adalah membangunan negeri dan menata kembali persatuan bangsa yang tercerabut karena berbeda pilihan.

Baca: Sering Menjadi Campuran Es Buah Saat Bulan Puasa, Ini 8 Manfaat Timun Suri Bagi Kesehatan

Bagi kubu 02, harusnya wacana-wacana yang dibangun tentang kecurangan Pilpres masif dan terstruktur segera disikapi dengan mempersiapkan segala bukti yang memadai untuk dibawa ke MK. Sebab, jika wacana yang dibangun itu tanpa dibuktikan, maka apa yang disampaikan tentang kecurangan itu hanya dianggap sebagai wacana tanpa dukungan bukti akurat. Tanggal 22 Mei menjadi gong untuk kubu 02 untuk bersegera melangkah ke MK, bukan menggaungkan hal-hal yang malah menimbulkan keresahan atau inkonstitusional. Sebab berjuang di MK adalah langkah final yang lebih bermartabat ketimbang hanya bersuara ke media.

Sebaliknya, kubu 01 juga jangan menjadikan tanggal 22 Mei sebagai tanggal keramat, lalu menggelar euforia kemenangan besar-besaran. Patut diingat, kemenangan kubu manapun, pasti menyisakan kubu yang kalah dan tidak puas. Mereka yang kalah dan tidak puas ini adalah juga sesama anak bangsa. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved