Mutiara Ramadan

Kekuatan Bahasa Agama

BAGI umat beragama, kitab suci dan figur pembawanya sama sekali tidak dilihat sekadar sebagai fakta dan figur historis

Kekuatan Bahasa Agama
BPost Cetak
BPost Edisi Sabtu (25/5/2019) 

Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

BANJARMASINPOST.CO.ID - BAGI umat beragama, kitab suci dan figur pembawanya sama sekali tidak dilihat sekadar sebagai fakta dan figur historis, tetapi lebih mendasar lagi adalah narasi suci dan kehadiran simbolik dari Tuhan untuk menyapa manusia.

Oleh mereka yang beriman, sapaan Tuhan itu diyakini dan dihayati sebagai curahan kasih sayang, jalan keselamatan, serta ikatan janji yang harus dipenuhi oleh manusia. Setiap kehadiran Rasul Tuhan selalu melahirkan sebuah komunitas yang sangat menjunjung tinggi kitab suci mereka sehingga melahirkan komunitas umat beriman.

Dalam kaitan ini, sangat tepat pengamatan Emile Durkheim, yang membedakan Rasul Tuhan dan dukun. Dalam dunia perdukunan yang muncul adalah sederet klien, tetapi tidak melahirkan komunitas solid, yang saling mengenal.

Bahkan sebisa mungkin klien satu dengan yang lain saling menyembunyikan diri. Dalam perdukunan tidak ada mantra yang dibela secara emosional oleh para kliennya karena dunia perdukunan hanya memenuhi kepentingan duniawi.

Baca: Suka Duka Guru dan Pembimbing Tunanetra, Aan Paling Sedih Saat Menapaki Anak Tangga

Baca: Bunga Hias di Siring Taman Patung Bekantan Tak Dirawat, Kenapa Ya?

Baca: Hadapi Gugatan Kubu Prabowo-Sandiaga Uno dan Ratusan Peserta Pemilu 2019, Ini yang Dilakukan KPU

Adapun kitab suci, di samping merupakan sumber informasi metafisis dan moralitas hidup, juga berperan sebagai tali pengikat yang abstrak, namun pengaruhnya amat riil bagi sebuah komunitas beragama. Ketika umat Kristiani, misalnya, melagukan nyanyian suci atau umat Islam melakukan pembacaan tahlil beramai-ramai, di situ terdapat berbagai aspek signifikan.

Misalnya, secara sosiologis dan psikologis akan memperkukuh hubungan emosional antar anggota jemaah. Keduanya, pembacaan ayat-ayat kitab suci itu, akan melahirkan daya mantra. Maksudnya mampu membangkitkan emosi, imajinasi, dan intuisi tentang kehadiran Tuhan dalam diri dan jemaah.

Oleh karena itu, signifikansi dari upacara tahlilan dan doa-doa bersama tidak harus terletak pada pemahamannya, tetapi juga pada aspek pemeliharaan komitmen moral dan loyalitas kelompok. Akan jauh lebih efektif lagi jika religious gathering itu diiringi musik mistikal serta pembahasan terhadap pesan tauhid dan moral yang dikandungnya.

Bagi umat beragama yang masuk dalam kategori “ahlul kitab”, teks kitab suci dan berbagai penafsirannya dihayati sebagai suatu mata air pencerahan Ilahi yang kemudian oleh umatnya ditampung dalam sebuah bendungan dalam bentuk etika sosial dan tata cara ritual, yang dihidupkan secara terus-menerus oleh komunitasnya melalui salat jamaah, pengajian.

Jadi konsep masjid dan rumah ibadah lainnya bukan terletak pada bangunan fisiknya, melainkan pada setting psikologis-teologis dan mistikal dari para anggota jemaahnya. Itulah sebabnya di berbagai kantor atau hotel, ketika waktu salat Jumat tiba seketika itu juga dimunculkan masjid.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved