Mutiara Ramadan

Kesatuan Kemanusiaan

DI antara tanda-tanda hamba Allah Yang Maha Kasih adalah orang-orang menghindari perbuatan durhaka terhadap-Nya, yaitu syirik, membunuh dan berzina.

Kesatuan Kemanusiaan
capture/banjarmasin post
DR Mutohharun Jinan MAG 

Oleh: Dr Mutohharun Jinan MAg
Dosen Pascasarjana UMS Solo

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI antara tanda-tanda hamba Allah Yang Maha Kasih adalah orang-orang menghindari perbuatan durhaka terhadap-Nya, yaitu syirik, membunuh dan berzina.

Dalam Kitab Suci disebutkan, “Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina dan barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat.” (Al-Furqan/25: 68-69).

Dalam ketentuan agama tiga macam perbuatan itu termasuk dosa besar. Ayat tersebut dijelaskan kembali oleh hadis Nabi Muhammad, bahwa Abdullah Bin Mas’ud bertanya tentang dosa besar. Lalu Nabi menjawab yang termasuk dosa besar adalah menyekutukan Allah, membunuh jiwa, dan berzina (HR Bukhari).

Alquran mengingatkan betapa bernilainya hidup semua makhluk ciptaan Allah. Jangankan manusia yang sudah lahir di dunia, masih dalam bentuk janin pun dilarang dibunuh. Bahkan binatang dan tumbuhan tidak boleh secara semena-mena dicabut kehidupannya.

Manusia secara kodrati adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan segala kelebihan, baik kelebihan keindahan fisikal maupun kelebihan potensi ruhaniahnya. Secara khusus pula manusia menempati kedudukan mulia dan mengemban tugas untuk memakmurkan kehidupan di dunia.

Penciptaan alam semesta mencapai puncaknya pada penciptaan manusia karena segala yang diciptakan-Nya di muka bumi diperuntukkan bagi manusia. Dalam konteks hubungan antarsesama manusia memiliki kedudukan setara, statusnya tidak dibedakan oleh latar belakang kebangsaan, kesukuan, warna kulit, dan keyakinan agamanya.

Maka tidak seorang pun berhak mengklaim lebih tinggi derajatnya dibanding orang lain. Begitu juga tidak dibenarkan seseorang merendahkan martabat orang lain, atau merasa rendah diri lantaran perbedaan-perbedaan tersebut.

Lebih dari itu, orang tidak dibenarkan menghilangkan nya­wa orang lain. Membunuh jiwa seseorang secara tidak alasan merupakan kejahatan yang amat besar. Membunuh satu jiwa orang yang tidak bersalah sama saja membunuh manusia secara keseluruhan.

Dalam Alquran disebutkan, “Barangsiapa yang membunuh seorang manu­sia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS Al-Maidah/5: 32).

Satu Asal
Prinsip kemuliaan dan kesetaraan itu menjadi landasan untuk menjaga eksistensinya dalam kerangka prinsip kesatuan kemanusiaan. Prinsip kesatuan kemanusiaan merupakan bentuk konsekuensial dari keyakinan tauhid, yang menegaskan pada dasarnya manusia berasal dari yang Satu, yakni Tuhan yang Mahas Esa.

Semboyan yang berbunyi ummatan wahidah (umat manusia adalah satu) terlepas dari warna kulit, latar belakang, bahasa, geografi, sejarah, dan segala macam perbedaan. Yang melatarbelakangi keragaman umat manusia itu tidak menghilangkan pengertian sangat prinsipil, manusia itu hidup dalam kesatuan kemanusiaan.

Dalam sejarah pernah dijumpai adanya kebiasaan masyarakat yang membunuh jiwa setelah diketahui jenis kelaminnya perempuan, atau membunuh jiwa karena takut akan kemiskinan. Dalam kehidupan saat ini sering terdengar bayi terbunuh karena orangtuanya tidak sanggup menanggung rasa malu karena karena bayinya hasil perzinaan.

Alquran sangat tegas me­ngutuk atas berbagai macam alasan pembunuhan tersebut dan menggantinya dengan ajaran mengangkat martabat manusia seutuhnya. Prinsip kesatuan kemanusiaan juga bermakna agar dalam kehidupannya manusia saling menghormati dan saling menghargai, serta saling bekerja sama satu sama lain untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Selain memang menjadi keharusan esksistensial, secara sosial kebutuhan seseorang tidak dapat dipenuhi kecuali melalui kerja sama semua pihak. Mereka harus bekerja sama dan topang-menopang demi mencapai kebahagiaan dan kesejahteraannya.

Oleh karena itu, tidak alasan mentolelir segala bentuk perbuatan yang menimbulkan korban nyawa manusia. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved