Berita Kotabaru

Sampah di Pemukiman Laut Wilayah Pesisir Jadi Penghalang Kotabaru Raih Adipura

Satu faktor yang dianggap berpengaruh besar terhadap penilaian adalah kondisi laut terutama di wilayah pesisir perkotaan Kotabaru.

Sampah di Pemukiman Laut Wilayah Pesisir Jadi Penghalang Kotabaru Raih Adipura
banjarmasinpost.co.id/man hidayat
Sekda Kotabaru Said Ahmad 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Hingga saat ini, Penghargaan Adipura untuk Kabupaten Kotabaru belum juga diraih meski sudah berupaya keras.

Satu faktor yang dianggap berpengaruh besar terhadap penilaian adalah kondisi laut terutama di wilayah pesisir perkotaan Kotabaru. Kondisi laut hingga saat ini masih terbilang penuh dengan sampah dan sulit teratasi.

Penyebabnya, dikarenakan kawasan desa yang tinggal diatas laut dan memiliki kebiasaan membuang sampah dibawah rumah. Akibatnya, sampah-sampah pun menumpuk dan sulit untuk dibuang.

Kondisi seperti itu ditemukan banyak disekitar wilayah Desa Rampa, Desa Semayap, Pasar Kemakmuran, Pelabuhan Panjang, Kotabaru Hilir dan Desa Hilir Muara serta Gedambaan. Wilayah tersebut dinggap wilayah yang masih banyak ditemukan sampah di lautnya.

Baca: Desa Belangian sebagai Desa Wisata Bentuk Tim Pengelola Sampah

Hal itu paparkan Kabid Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup Kotabaru, Emi Siswati, Rabu (19/6/19) saat pertemuan di Lanal Kotabaru. Dia menyebutkan, sejumlah desa tersebut menjadi perhatian dan masih sulitnya untuk mengeruk sampah-sampah yang ada.

"Kita belum dapat-dapat Adipura, di antara faktornya adalah pencemaran laut. Di Kotabaru memang ada desa diatas laut, jadi kebiasaan membuang sampah masih langsung ke laut masih sulit dihilangkan, " katanya.

Di Desa Rampa Kecamatan Pulau Laut Utara ini merupakan desa terpadat yang tinggal diatas laut. Kebiasaan yang sulit dibersihkan sebab setelah ada pembersihan, kebiasaan membuang sampah ke laut masih terus ada.

"Sementara titik penilaian Adipura itu d isana. Jadi ini yang sedang kita upayakan untuk melakukan pembersihan, " katanya.

Baca: BPJS Ketenagakerjaan Banjarmasin akan Limpahkan Perusahaaan Penunggak Iuran ke Kejaksaan

Sementara itu, pihaknya sudah berupaya membentuk petugas kebersihan. Di tiap RT di desa Rampa ada sebanyak 2 petugas. Namun memang honor yang mereka terima masih sangat minim.

"Jadi setiap hari ada dua petugas di satu RT dan petugas ini yang akan mengangkut sampah-sampah warga di sekitarnya. Tapi ya honornya masih sangat rendah yakni Rp 300 ribu perbulan, " katanya.

Jariyah dan kondisi rumahnya di Rampa Lama Kotabaru.
Jariyah dan kondisi rumahnya di Rampa Lama Kotabaru. (banjarmasinpost.co.id/man hidayat)

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kotabaru H Said Akhmad, tidak membantah kondisi tersebut.

Dia mengakui, kondisi disejumlah titik memang masih sangat sulit untuk dibersihkan sehingga tak heran bila Kotabaru belum mampu mendapatkan penghargaan Adipura.

"Upaya kami dari Pemerintah pada 2018 sudah mengeluarkan perda penggunaan larangam kantong plastik. Ini untuk mengurangi sampah plastik dan menghilangkan kebiasaan masyarakat, " katanya.

Said Akhmad juga mengatakan juga ada program Kotaku yang ditunjuk adalah Desa Rampa. Nah, disitu pihaknya akan mengubah kebiasaan masyarakat yang hampir semua pendududknya bermukim dari diatas perairan laut.

"Dengan Kotaku ini, BAB pun sudah tidak boleh dijamban langsung ke laut tapi menggunakan sistem komunal dan sistem pengelolaan sampahnya dalam proyek bantuan dari pusat yang nilainya kurang lebih bernilai 50 miliar. Desa Rampa akan kita jadikan kota Wisata, dan kita mulai merubah pemikiran masyarakat, " ktanya. (Banjarmasinpost.co.id/man hidayat)

Penulis: Man Hidayat
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved