Ekonomi dan Bisnis

Saham Terjun Bebas, Uber Merugi Rp 74,3 Triliun, Dara Khosrowshahi Pun Keyakinan Ini

Perusahaan penyedia aplikasi transportasi Uber melaporkan kerugian bersih mencapai 5,24 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 74,3 triliun pada kuart

Saham Terjun Bebas, Uber Merugi Rp 74,3 Triliun, Dara Khosrowshahi Pun Keyakinan Ini
SHUTTERSTOCK
Uber PHK karyawannya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, NEW YORK - Perusahaan penyedia aplikasi transportasi Uber melaporkan kerugian bersih mencapai 5,24 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 74,3 triliun pada kuartal II 2019.

Adapun kerugian per saham mencapai 4,72 dollar AS. Kerugian tersebut menggiring saham Uber terjun bebas 12 persen pada perdagangan Kamis (8/8/2019) waktu setempat sebelum akhirnya ditutup melemah 4 persen.

Dilansir dari CNBC, Jumat (9/8/2019), pendapatan Uber pada kuartal II 2019 mencapai 3,17 miliar dollar AS atau setara kira-kira Rp 45 triliun.

"Saya tidak ragu bahwa bisnis akan bangkit dan menghasilkan laba," kata CEO Uber Dara Khosrowshahi.

Dia menuturkan, pihaknya meyakini tahun 2019 akan menjadi tahun puncak investasi. Kemudian, kerugian akan semakin menciut pada tahun 2020 dan 2021 mendatang.

Baca: Kiat, Tips dan Tata Cara Mudah Membuat Daging Kurban Empuk Pada Idul Adha 2019

Baca: Beda Perlakuan Luna Maya ke Sandra Dewi & Syahrini Meski Sama-sama Eks Kekasih Reino Barack

Baca: Megawati Tiba-tiba Sebut Nama BTP atau Ahok saat Pidato di Kongres PDI-P, Eriko Sebut Ini Alasannya

"Saya rasa break even point adalah sesuatu yang bisa kita dorong jika kita benar-benar menginginkannya," sebut Khosrowshahi.

Di luar kompensasi berdasarkan kepemilikan saham atau stock-based compensation, kerugian Uber mencapai kisaran 1,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 18,4 triliun. Angka ini 30 persen lebih buruk dibandingkan pada kuartal sebelumnya.

Uber memang membantu tumbuhnya perusahaan sejenis di berbagai belahan dunia. Namun, dalam satu dekade terakhir, Uber juga berinvestasi dan mengoperasikan layanan on-demand lainnya, seperti pengiriman makanan, bike-sharing, dan layanan pengiriman.

Bisnis transportasi Uber mencatat pemesanan senilai 12,19 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 173,1 triliun pada kuartal II 2019. Angka ini melampaui estimasi para analis, yakni 12,11 miliar dollar AS.

Adapun bisnis pengiriman makanan Uber Eats mencatat pemesanan senilai 3,39 miliar dollar AS pada kuartal II 2019, setara kira-kira Rp 48,1 triliun. Angka ini pun melebihi ekspektasi analis, yakni 3,51 miliar dollar AS.

"Ke depan, bisnis (Uber) Eats masih memberikan pertumbuhan yang sangat signifikan dan terus menarik banyak modal. Tidak hanya di AS, tapi juga di seluruh dunia," ujar Khosrowshahi.

Ia menyatakan, saat ini Uber merupakan pemimpin dalam bisnis layanan antar makanan berbasis aplikasi. Sehingga, imbuh Khosrowshahi, dia tidak mengekspektasikan laba dalam satu atau dua tahun ke depan.

Beberapa pekan terakhir, Uber pun telah memangkas sekira 400 posisi pekerjaan di tim pemasaran. Adapun jumlah mitra pengemudi mencapai 30 juta orang pada tahun 2018.

Hai Guys! Berita ini ada juga di KOMPAS.com

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved