Berita Banjarmasin

Guru besar ULM Prof Husaini Tegaskan Kalsel Darurat Stunting

Waspadai daerah-daerah yang tinggi kasus stunting. Bila tidak teratasi maka terjadi loss generation SDM.

Penulis: Nia Kurniawan | Editor: Hari Widodo
istimewa
Guru Besar ULM, Prof Husaini menyampaikan Kalsel darurat stunting 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ketua tim peneliti pengendalian stunting kerjasama Kemenkes RI-FK ULM Prof Dr Husaini SKM Mkes menyampaikan materi penurunan stunting melalui perbaikan pola asuh dan stimulasi perkembangan anak melalui kelompok bina keluarga balita (Bkb).

Guru besar Bidang Ilmu kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini begitu bersemangat bila sudah berbicara mengenai stunting.

Kasus stunting ini disampaikan pada kesempatan seminar tumbuh kembang dan stunting tingkat provinai Kalsel di Amuntai.

BKB ini pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur yang dilaksanakan oleh sejumlah kader dan berada ditingkat Rw. Bkb merupakan salahsatu kegiatan satuan paud sejenis yang terdiri dari posyandu, paud dan kb.

Baca: Doorprize untuk Tamu Undangan Pernikahan Jessica Iskandar dan Richard Kyle Disediakan, Apakah Itu?

Baca: Sultan Khairul Saleh Siapkan Kompleks Pemakaman Keluarga Kesultanan Banjar, Disini Lokasinya

Baca: Akhirnya, Identitas Lucinta Luna Terbongkar Lewat KTP pada Ria Ricis, Nama Muhammad Fatah Disebut

"Waspadai daerah-daerah yang tinggi kasus stunting. Bila tidak teratasi maka terjadi loss generation SDM. Kalsel kasus nya masih di atas rata-rata nasional,"tegas lulusan S3 Ilmu kedokteran dan kesehatan FK UGM ini, Jumat (16/8/2019).

Dikatakannya, Gizi buruk merenggut hak-hak dasar manusia.

"Kalsel darurat kasus stunting," kata dia.

Dia membeberkan, anak balita yang tidak tertangani stuntingnya maka bila dewasa Kehilangan potensi produktivitas hidup sebesar 47 persen.

Pasalnya, menurut dia, anak yang kena kasus stunting, bila dewasa IQ atau kecerdasannya rendah dan sering sakit regeneratif seperti penyakit gagal ginjal, jantung, obesitas dan lain-lain. " Jadi tentu ini sangat berbahaya bagi SDM ," kata dia.

Baca: Naskah (Teks) Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Asli & Otentik Jelang HUT ke-74 RI, 17 Agustus 2019

Baca: Keinginan Bunuh Diri Ruben Onsu Diungkap Ivan Gunawan di Depan Ayu Ting Ting, Ternyata?

Anak dengan kasus stunting terjadi lebih 80 persen sewaktu dalam kandungan ibu. Pasalnya ibunya waktu hamil sangat kurang gizi atau menderita kekurangan gizi kronik. Sehingga pembentukkan otak bayi dalam kandungn tidak optimal.

" Banyak tidaknya kasus stunting di suatu daerah juga jadi indikator kinerja kepada daerah tersebut. Jasus stunting sesungguhnya merupakan tragedi kemanusiaan, dan jadi indikator baik tidaknya kinerja pemerintahan," tegas dia. (banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved