Tajuk

Menyelamatkan Paru-paru Dunia

DUNIA diguncangkan dengan kebakaran hebat di hutan Amazon, Brazil yang mencapai 1.62 kilometer persegi, setara dengan 28 kali luasan DKI Jakarta.

Menyelamatkan Paru-paru Dunia
Kompas.com
Kebakaran Hutan Amazon. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - DUNIA diguncangkan dengan kebakaran hebat di hutan Amazon, Brazil yang mencapai 1.62 kilometer persegi. Setara dengan 28 kali luasan DKI Jakarta yang memiliki luas 661,5 kilometer persegi (kompas.com), mengacu pada data Badan Penelitian Luar Angkasa Brasil (INPE) dilansir USA Today Jumat (23/8/2019).

Musibah kebakaran ini menjadi sorotan aktivis lingkungan hidup dunia, termasuk Indonesia.

Mengapa begitu penting? Karena hutan Amazon menyumbang 20 persen pasokan oksigen dunia, sebagai paru-paru dunia.

Amazon memang sering dilanda kebakaran. Namun akan padam dengan sendirinya. Kali ini kawasan yang terbakar justru dalam titik terbasah dunia yang jarang terbakar, apalagi dalam skala besar.

Aktivis Nigel Sizer dari Rainorest Alliance mengatakan saat ini, hutan mengalami pergeseran dari ekosistem tahan api menjadi ekosistem rawan terbakar.

Bukan hanya di Amazon, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah juga saat ini sedang ‘berperang’ melawan kebakaran lahan dan hutan. Sejak satu minggu terakhir, kabut asap mulai terasa di pagi hari di daerah Landasan Ulin. Hal tersebut terjadi karena kebakaran lahan di daerah sekitar Gambut, Kabupaten Banjar.

Lebih parah di Palangkaraya yang memang sudah dirasakan warganya sejak awal Agustus 2019 lalu. Terkini di Desa Patai, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin. Kebakaran hutan terjadi di salah satu lahan perusahaan industri (HTI).

Bahkan hingga saat ini, kebakaran lahan milik perusahaan tersebut masih terjadi dan belum diketahui penyebabnya Dengan kondisi saat ini sudah jelas ancaman besar melanda lingkungan hidup dunia dan yang ada di sekitar kita.

Bukan hal yang sepele, jika pasokan oksigen yang merupakan faktor kehidupan semakin berkurang setiap harinya. Namun apakah ini sudah kita disadari sepenuhnya, terutama di wilayah Kalimantan yang nyaris setiap tahunnya pada kemarau dilanda kabut asap.

Baik itu karena lahan gambut yang terbakar seiring dengan adanya musim kemarau ataupun oknum yang diduga membakar lahan untuk membuka lahan baru.

Keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang bahayanya dampak kebakaran lahan hutan harus mendapat penanganan edukasi dari pemerintah daerah setempat.

Penangkapan tiga pelaku pembakaran lahan di Sungai Ulin Banjarbaru misalnya, patut diapresiasi. Namun apakah pelaku tahu betul dengan adanya Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2008, membakar lahan dengan sengaja akan dikenakan hukuman kurungan 6 bulan dan denda Rp 50 juta.

Dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup, para pelaku bisa menerima hukuman yang lebih berat, yakni kurungan 3 sampai 5 tahun, (Kompas 21/8/2019).

Kesadaran untuk menjaga keberlangsungan lingkungan hidup juga bisa dimulai dari rumah.

Bukan hanya pohon saja yang bisa melepaskan oksigen ke udara. Namun tanaman hias di pekarangan yang menghasilkan oksigen juga bisa membantu keberlangsungan hidup dunia. Kalau bukan kita yang peduli lingkungan, siapa lagi? (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved