Berita Banjarbaru
Kalselpedia : Alat Pemadam Busa Digunakan Pemadaman Api Karhutla di Kalsel
Fighter Pump Blower, adalah alat pemadam api gendong yang menggunakan jenis busa. Alat ini, populer digunakan di awal 2019
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Fighter Pump Blower, adalah alat pemadam api gendong yang menggunakan jenis busa.
Alat ini tergolong baru di awal tahun 2019 baru populer di Kalimantan Selatan.
Sebab sejauh ini yang baru dikenal warga Kalsel hanya mesin semprot air guna pemadaman.
Mesin ini adalah bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebanyak 10 unit.
Mesin ini bisa dibawa model tas ransel. Dimana dari jenis yang ada mesin ini menggunakan bahan bakar bensin dicampur oli untuk penggeraknya. Jika full tangki maka akan kuat sekitar satu jam.
Selain jenis ransel, juga ada mesin duduk dipakai di atas mobil. Namanya Kohler Pump Foam. Di BPBD Kalsel unit ini ada empat.
Baca: Kampanyekan Produk Lokal Kalimantan Tengah, Begini Alasan Istri Gubernur Kalteng Yulistra Ivo
Baca: Pasca Menyantap Hidangan Aqiqah, 47 Warga Sukoharjo Keracunan Massal, Diduga Sayur Ini Penyebabnya
Baca: Bawa Kayu Tanpa Dokumen, Warga Lampihong Kalsel Ini Diamankan Polisi Barsel
Baca: Ternyata Begini Sifat Chicco Jerikho Saat Jadi Ayah, Putri Marino : Chicco Itu Ayah yang Super Sweet
Ya, dalam dunia pemadaman kebakaran, foam atau busa merupakan senjata utama dalam memadamkan api.
Awalnya pemadaman foam ini untuk mengantisipasi kebakaran dari pesawat yang terbakar. Hal ini dikarenakan pada pesawat yang terbakar tersebut membawa bahan bakar yang cukup banyak Sehingga untuk memadamkan api yang mengandung bahan bakar cair tersebut, diperlukan bahan pemadam khusus yang secara efektif dapat memadamkannya.
Sebagai senjata utama, kita perlu mengetahui lebih lanjut mengenai bahan pemadam busa ini, dari sejarahnya, kandungannya hingga jenisnya.
Busa pemadam kebakaran adalah busa yang digunakan untuk memadamkan api. Perannya adalah untuk mendinginkan api dan untuk menyelimuti bahan bakar yang terbakar, mencegah kontak kembali dengan oksigen yang dapat mengakibatkan nyala api kembali. Busa pemadam kebakaran diciptakan insinyur dan ahli kimia Rusia Aleksander Loran tahun 1902.
Ada jenis jenis Foam dalam pemadaman berikut penjelasannya:
Jenis Foam
Foam kelas A.
Foam Kelas A dikembangkan pada pertengahan tahun 1980 untuk memadamkan kebakaran hutan. Foam Kelas A dapat menurunkan tegangan permukaan air yang membantu dalam pembasahan dan saturasi bahan bakar kelas A dengan air. Ini membantu pemadaman terhadap kebakaran dan dapat mencegah api hidup kembali. Foam kelas A ini dapat digunakan untuk memerangi jenis lain dari kebakaran kelas A, termasuk kebakaran struktur.
Foam Kelas B
Foam Kelas B dirancang untuk api kelas B atau cairan yang mudah terbakar. Penggunaan busa kelas A pada api kelas B dapat menghasilkan hasil yang tidak terduga, busa Kelas B memiliki dua subtipe utama :
Busa sintetik
Busa sintetis didasarkan pada surfaktan sintetis. Busa sintetis dapat mengalir lebih baik serta knockdown terhadap api lebih cepat.
Aqueous film forming foams (AFFF) adalah berbasis air dan sering mengandung surfaktan berbasis hidrokarbon seperti sulfat sodium alkyl, dan fluoro surfactant seperti fluorotelomers, asam perfluorooctanoic (PFOA), atau asam perfluorooctanesulfonic (PFOS).
Mereka memiliki kemampuan untuk menyebar di permukaan cairan berbasis hidrokarbon. Alcohol-resistant aqueous film forming foams (AR-AFFF) adalah busa yang tahan terhadap reaksi dari alkohol, dapat membentuk lapisan pelindung ketika disemprotkan.
Protein Foam
Protein Foam mengandung protein alami sebagai agen busa. Tidak seperti busa sintetis lainnya, busa protein bersifat bio-degradable. Menyebar lebih lambat, tetapi menyediakan selimut busa yang lebih tahan panas dan lebih tahan lama.
Protein foams meliputi regular protein foam (P), fluoroprotein foam (FP), film forming fluoroprotein (FFFP), alcohol resistant fluoroprotein foam (AR-FP), dan alcohol-resistant film forming fluoroprotein (AR-FFFP).
Protein Foam dari sumber-sumber non-hewan lebih disukai karena ancaman kemungkinan kontaminan biologis seperti prion (satu jenis penularan penyakit akibat protein hewani).
Penerapan terhadap busa
Setiap jenis busa memiliki penerapannya masing-masing. Busa ekspansi tinggi digunakan ketika di ruangan tertutup, seperti basement atau hanggar, harus cepat diisi. Busa ekspansi rendah digunakan pada tumpahan yang terbakar.
Penerapan AFFF yang terbaik ialah untuk tumpahan bahan bakar pesawat, FFFP lebih baik untuk kasus-kasus di mana pembakaran bahan bakar yang tergenang, AR-AFFF lebih cocok untuk alkohol yang terbakar.
Sejarah bahan pemadam foam.
Air telah lama menjadi agen universal untuk memadamkan kebakaran, namun air bukan yang terbaik di semua kasus.
Sebagai contoh, air sangat tidak efektif untuk memadamkan kebakaran oleh bahan bakar minyak, dan bahkan dapat membahayakan. Bahan pemadam busa merupakan suatu perkembangan positif dalam memadamkan kebakaran oleh minyak.
Pada tahun 1902 sebuah metode pemadam kebakaran dari bahan bakar cair dengan cara menyelimuti mereka dengan busa pertama kali diperkenalkan oleh insinyur dan ahli kimia Rusia Aleksandr Loran.
Loran adalah seorang guru sebuah sekolah di kota Baku, yang merupakan titik pusat utama industri minyak Rusia pada saat itu.
Terinspirasi oleh pengalaman kebakaran minyak yang mengerikan dan tidak dapat terpadamkan, Loran mencoba menemukan suatu zat cair yang dapat menangani secara efektif kebakaran tersebut. Sehingga ia menemukan busa pemadam kebakaran, yang telah berhasil diuji dalam beberapa percobaan antara tahun 1902-1903.
Pada tahun 1904 penemuannya dipatenkan, dan mengembangkannya pertama kali di tahun yang sama.
Busa asli merupakan campuran dari dua bubuk dan air sehingga menghasilkan suatu generator busa. Hal itu disebut sebagai busa kimia (chemical powder) karena terdapat suatu reaksi kimia untuk membuatnya.
Umumnya, serbuk yang digunakan adalah natrium bikarbonat dan aluminium sulfat, dengan sejumlah kecil saponin atau liquorice ditambahkan untuk menstabilkan gelembung.
Alat pemadam busa portable menggunakan dua bahan kimia yang sama dalam larutan: untuk melakukankan pemadaman, dapat dilakukan dengan melepas pin pengaman dan membalikannya,sehingga memungkinkan cairan yang terdapat di dalamnya untuk bercampur dan bereaksi. Alat pemadam portable ini biasa disebut sebagai foam dua galon.
Busa Kimia merupakan suatu solusi yang stabil dalam pemadaman, gelembung kecil dalam busa tersebut mengandung karbon dioksida (CO2) dengan kepadatan lebih rendah daripada minyak atau air, dan sifatnya yang baik untuk menutupi permukaan datar.
Karena sifatnya lebih ringan dari cairan bahan bakar yang terbakar, sehingga dapat mengalir bebas di atas permukaan cair dan memadamkan api yang ada di atasnya.
Busa kimia (chemical foam) saat ini sudah dianggap ketinggalan jaman karena memerlukan banyak wadah untuk serbuknya, bahkan untuk kebakaran kecil sekalipun.
Pada tahun 1940 Percy Julian Lavonmengembangkan suatu tipe busa yang sudah di improvisasi disebut Aerofoam. Dengan menggunakan proses mekanis, konsentrat protein yang berbahan cair, dibuat dari protein kedelai, dan dicampur dengan air baik di proportioner atau nozel yang mengaerasi untuk membentuk gelembung udara dengan proses mengalir bebas.
Oleh karena rasio ekspansi dan kemudahan dalam penanganannya sehingga membuat bahan pemadam ini menjadi populer.
Busa protein mudah terkontaminasi oleh beberapa cairan yang mudah terbakar, sehingga harus berhati-hati dalam menggunakannya, oleh sebab itu busa hanya diterapkan di atas cairan yang terbakar.
Busa Protein memiliki karakteristik pemadaman (knockdown) yang lambat, tetapi sangat ekonomis untuk kontrol paska kebakaran.
Baca: Liverpool Kokoh di Puncak Klasmen Liga Inggris, Pesta 3 Gol ke Gawang Burnley
Baca: Mental Juara Si Nyonya Tua, Skor Akhir Juventus vs Napoli 4-3
Pada tahun 1960 National Foam, Inc mengembangkan busa fluoroprotein. Bahan aktifnya adalah afluorinated surfaktan yang mengandung pelindung berbahan minyak yang berfungsi untuk mencegah terjadinya kontaminasi.
Hal ini pada umumnya bersifat lebih baik daripada busa protein karena kemampuannya dalam menyelimuti permukaan yang terbakar lebih lama sehingga memberikan safety yang lebih baik terutama jika akan dilakukan tindakan penyelamatan oleh tim resque selanjutnya. Busa Fluoroprotein juga memiliki karakteristik knockdown yang lebih cepat. (banjarmasinpost.co.id /nurholis huda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/satgas-karhutla-mencoba-alat-pemadam-busa.jpg)