Berita Tanahlaut
Begini Kondisi RPH Pelaihari yang Makin Sepi, Sehari Hanya Potong 4 Ekor Sapi
Sudah tiga bulan ini Rumah Potong Hewan (RPH) Pelaihari sepi. Sapi yang diinapkan di RPH pun juga tampak hanya beberapa ekor
Penulis: Milna Sari | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Sudah tiga bulan ini Rumah Potong Hewan (RPH) Pelaihari sepi. Sapi yang diinapkan di RPH pun juga tampak hanya beberapa ekor
Kondisi tersebut diakui Aau salah satu penjagal di RPH kini pemotongan sepi.
Menurutnya, Sehari hanya ada tiga atau empat sapi yang dipotong.
"Sepi sekarang, paling banyak empat ekor sapi yang disembelih," ujarnya kepda Banjarmasinpost.co.id, Minggu (22/9/2019).
Sepinya pemotongan hewan ujar Aau diduga akibat daging sapi impor yang banyak masuk ke Pelaihari sehingga daging sapi lokal harus bersaing dengan daging sapi impor yang harganya jauh lebih murah.
Baca: Terungkap Pelaku Pembegalan di Gunung Kupang, Masih di Bawah Umur, Ini Penjelasan Kapolsek
Baca: Diduga Terlibat Kasus Penipuan, Lihan Kembali Berurusan dengan Polisi
Baca: Awalnya Hanya Dikirimi Brosur, Kini Remaja Cantik Jadi Model Terkenal
Baca: SESAAT LAGI Link Mola TV! Live Streaming TV Online West Ham vs Man United Liga Inggris, Live TVRI
"Sapi impor dari India dan Australia yang banyak masuk," ujarnya.
Berbeda dnegan tahun lalu terang Aau, bisa ada 20 ekor sapi yang dipotong dalam sehari. Sedang kini ada sembilan penjagal sementara jumlah sapi yang masuk semakin sedikit.
Sekali potong penjagal mendapatkan upah Rp 36 ribu. Namun Aau mengaku masih bersyukur masih ada yang memotong di RPH.
"Padahal RPH ini satu-satunya di Pelaihari," ucapnya.
Kadis Peternakan dan Keswan Kabupaten Tanahlaut Suharyo menampik RPH sepi. Menurutnya dalam sehari ada lima sapi yang biasa dipotong penjagal.
Jumlah ini sebutnya sesuai dengan kebutuhan daging sapi warga Pelaihari.
"Bukan sepi atau sedikit tapi itulah kebutuhan pasar," ujarnya.
Memang dalam sehari ujarnya kebutuhan daging sapi warga Pelaihari adalah lima ekor sapi lokal. Sedangkan terkait sapi impor yang masuk Pelaihari sebutnya hanya pelengkap saja.
"Daging sapi impor itu dibeli pedagang dari Banjarmasin, tidak banyak juga, tapi saya yakin masyarakat masih memilih sapi lokal dibanding impor meskipun harganya lebih mahal," jelasnya.
Terlebih daging sapi impor terangnya gak tahan lama di suhu luar atau tanpa pendingin sehingga tak bisa dijual banyak oleh pedagang.
Sementara terkait bangunan RPH yang sudah banyak kerusakan misalnya keramik lantai yang sudah habis semua terang Suharyo tak ada rencana perbaikan dan pembenahan.
Baca: Marcus/Kevin Juara! Hasil Final China Open 2019 : Marcus/Kevin Kalahkan Ahsan/Hendra
Baca: BERLANGSUNG! Link Live Streaming TV Online RCTI & Mola TV Timnas U-16 Indonesia vs China Piala Asia
Baca: Inilah 14 Artis yang Melenggang ke Gedung DPR RI, Nama Mulan Jameela Masuk Bagian Akhir
"Lima tagun ke depan tak ada rencana untuk pembenahan RPH," sebutnya.
Saat ini ada empat RPH di Kabupaten Tanahlaut yaitu di Bati-bati, Pelaihari, Kintap dan Asam-asam. Namun hanya RPH Pelaihari yang berbayar. Sementara RPH lain tak berbayar.
"RPH lain tetap dalam pengawasan kita tapi milik masyarakat," ujarnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Milna Sari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ruangan-pemotongan-sapi-di-rph-pelaihari.jpg)