Berita Banjarmasin

Kematian Massal Ikan Keramba, Petani ini Gelontorkan Biaya Setara Motor Setiap Bulan untuk Pakan

Tidak hanya Anang Masrani yang menelan kerugian karena kematian massal ikan keramba, Murdiana seorang istri petambak jala apung di RT 1 RW 1

Kematian Massal Ikan Keramba, Petani ini Gelontorkan Biaya Setara Motor Setiap Bulan untuk Pakan
banjarmasinpost.co.id/ghanie
Kondisi ikan mati massal di beberapa keramba petani jala apung di Kelurahan Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur Kalsel. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tidak hanya Anang Masrani yang menelan kerugian karena kematian massal ikan keramba, Murdiana seorang istri petambak jala apung di RT 1 RW 1 Banua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur, merasakan hal yang sama.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, ikan yang mati tersebut merupakan ikan jenis bawal yang semestinya sudah siap panen.

"Iya, kalau di tempat kami ini bahkan ikannya rata-rata sudah siap panen. Tapi apa boleh buat ya, namanya juga rezeki, Tuhan sudah mengaturnya," ungkap Murdiana pasrah.

Untuk membesarkan ikan-ikannya tersebut, ia bersama sang suami harus menggelontorkan biaya Rp 2 juta perhari.

Baca: Akhir Kisah Cinta Gisella Anastasia & Wijaya Saputra Disebut Sosok Ini, Beda Nasib Gading Marten?

Baca: Ini Panggilan Sayang Cut Meyriska & Roger Danuarta, Terdengar Saat Sahabat Marcella Simon Ngambek

Baca: Somasi Enji Baskoro pada Ayu Ting Ting Terjadi Gara-gara Vlognya, Ini Kata Melaney Ricardo

Baca: Bukti Selingkuh Raffi Ahmad Ditantang untuk Ditunjukkan, Nagita Slavina Bela Asisten Nia Ramadhani?

Uang itu digunakan untuk membeli pakan ikan yang tidak hanya mengandalkan pelet melainkan juga jeroan ikan.

"Betul Rp 2 juta sehari. Itu untuk membeli pakannya. Karena di sini ada sekitar 80 keramba," ujarnya.

Lain Mardiana berbeda lagi dengan Anang Masrani.

Meski terbilang lebih kecil lantaran hanya memiliki 32 keramba, biaya pakan yang ia keluarkan setiap bulannya pun hampir setara harga sebuah sepeda motor.

"Kalau kami untuk biaya pakan setiap bulan Rp 15 juta. Ya setara harga sebuah motor lah," ujarnya.

Tak heran jika pascakematian massal sejumlah ikan sejak beberapa hari tadi, Mardiana, Anang serta sejumlah petani ikan di Banua Anyar berkabung.

Bukan semata karena melayangnya nyawa puluhan ribuan ikan, melainkan tingginya biaya operasional namun tidak sebanding dengan murahnya harga jual ikan.

"Karena bila pakan sebulan tadi saja Rp 15 juta perbulan, untuk masa panen kami harus menunggu lima sampai enam bulan dulu. Sedangkan sekarang, pas sudah siap panen, ikan yang semestinya bisa laku Rp 17 ribu sampai Rp 19 ribu perkilonya, justru hanya laku terjual Rp 3.500 sampai Rp 5.000 ribu," jelas Anang.

Sedangkan Mardiana pun tidak menampiknya.

Bahkan demi menutupi biaya pakan yang telah dikeluarkan, pihaknya rela mengantarkan ikan-ikan mati ke pembeli di Martapura.

"Di sana, ikan-ikan mati ini dikumpulkan dan kemudian diolah menjadi pakan," jelasnya. (Gha)

Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved