Tajuk

Pembangunan di Pulau Terluar

SUDAH melewati tahun ke-74, Negera Kesatuan Republik Indonesia (KNRI) mengecap kemerdekaannya. Dengan penuh pengorbanan serta perjuangan hidup mati

Pembangunan di Pulau Terluar
BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah
Nelayan Desa Rampa, Kecamatan Pulau Sebuku saat berada di Gusung Bangau. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUDAH melewati tahun ke-74, Negera Kesatuan Republik Indonesia (KNRI) mengecap kemerdekaannya. Dengan penuh pengorbanan serta perjuangan hidup mati anak bangsa, Indonesia bisa meniti kehidupan mandiri tanpa ketergantungan dengan negara lain.

Segala pembangunan serta kemajuan pun digapai demi menwujudkan menjadi negara yang majudan bermartabat.

Sesuai dengan Pancasila sila kelima menyebutkan, capaian kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia selalu didengung-dengung dalam setiap langkah rea pembangunan. Tak berlebihan, segala usaha dan upaya Bangsa Indonesia untuk bisa mewujudkan Impian Besar itu.

Terlepas dari impian besar itu, masih banyak masalah yang harus diselesaikan dan harus segera diselesaikan. Mengingat, pembangunan tercipta hanya di bagian-bagian tertentu saja, tertutama daerah yang mudah terjangkau. Apalagi jika sudah di Pusat Kota dan sekitarnya.

Memang pembangunan sudah berjalan sesuai harpan, tapi sasaran belum juga menyentuh kalangan di bagian bawah. Masih banyak rakyat dan wilayah-wilayah pelosok yang belum tersentuh Pembangunan. Merata kah pembangunan yang sudah berjalan hingga 74 tahun ini?

Sebagai contoh, pembangunan di pulau-pulau terluar di Kalimantan Selatan, terbilang jauh dari sentuhan pembangunan. Jika pun ada, itu bisa dihitung dengan jari dan hanya orang-orang tertentu yang merasakannya. Di pulau terluar Kalsel, Pulau Sebuku dan Pulau laut serta pulau-pulau lainnya, masih mengharapkan pembangunan itu.

Apalagi, sebuah pulau harusnya memang didukung sarana dan prasarana memadai untuk bisa dirasakan masyarakat, tak terkecuali transportasi air yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya, terlebih lagi menghubungkan dengan pulau terluar.

Operasional kapal Penyeberangan KMB Bamega Jaya antar Kecamatan di Pulau Sebuku dan Pulau Laut di Kotabaru, baru akan dijalankan operasi perdana mulai Kamis, 17 Oktober 2019 ini. Padahal, masyarakat pulau terluar serta pulau-pulau lainnya, sangat mendambakan operasional kapal penyeberangan itu sejak lama. Dan baru sekarang terwujud.

Penentuan operasional ini pun melalui proses panjang dan terakhir melalui rapat rapat finalisasi antara Perwakilan dari Dinas Perhubungan Kotabaru, Camat, Para Kades, Pak Kapolsek, BPTD dan PT ASDP di ruang rapat Pelabuhan Teluk Gosong. Sebegitu rumitkah, pengayom serta pelayan masyarakat dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan?

Operasional perdana ini melewati rute Pelabuhan dari Teluk Gosong, Kecamatan Pulau Laut Timur - Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru.

Belum lagi, kita bicara pulau-pulau lainnya di Bumi Lambung Mangkurat serta daerah kepulauan di NKRI ini.

Jika pembangunan sudah menyentuh pulau-pulau terluar, maka sepantasnya kita berbangga sebagai negeri yang menjunjung tinggi rasa keadilan. Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Semoga (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved