Tajuk

Risiko Tugas

SATU anggota polisi dari Direktorat Narkoba Polda Kalimantan Selatan menjadi korban penyerangan pengedar sabu, menyentak sekaligus menyadarkan

Risiko Tugas
KOMPAS.com/Achmad Faizal
Ilustrasi polisi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SATU anggota polisi dari Direktorat Narkoba Polda Kalimantan Selatan menjadi korban penyerangan pengedar sabu, menyentak sekaligus menyadarkan banyak orang jika tugas seorang polisi tidak selalu berjalan mulus.

Seperti diberitakan Banjarmasin Post edisi 18 Oktober 2019, Kanit 1 Subdit 2 Direktorat Narkoba Polda Kalimantan Selatan, Kompol Niko Irawan, menderita luka akibat tebasan parang saat mengejar seorang pengedar sabu, Darmawan alias Mawan di kawasan Alalak Selatan, Rabu (16/10) sore.

Kejadian ini menunjukkan, di satu sisi seorang petugas kepolisian memiliki tugas memberantas kejahatan, sedang di sisi lain ada penjahat yang berusaha menerapkan berbagai cara agar bisa lolos dari kejaran polisi.

Pertemuan dua kutub antara pemberantas kejahatan dan penjahat tersebut memang riskan menimbulkan benturan. Hasilnya, bisa sang pejahat yang menjadi sasaran peluru polisi, atau sebaliknya sang pemberantas kejahatan menjadi korban.

Penyerangan terhadap Kompol Niko menambah panjang daftar polisi pemberantas penyalahgunaan narkoba yang menjadi korban pelaku. Sebelumnya, 12 Februari 2019, anggota Subdit 3 Ditnarkoba Polda Kalsel, Bripka Indra, harus menjalani perawatan dan di operasi di RS Bhayangkara akibat terluka saat menangkap satu pengedar berinsial A.

Akibat serangan A, pergelangan tangan kiri Bripka Indra robek ditusuk belati. Akibat cukup dalam lukanya ini, dia harus menjalani operasi karena kena satu urat tangannya putus.

Risiko dalam pekerjaan tak hanya menghantui anggota kepolisian, semua sektor layanan yang bersentuhan dengan masyarakat memang memiliki ancaman yang bisa mengancam jiwa. Baik di sektor keamanan hingga layanan publik.

Tentu, risiko yang mengancam aparat keamanan seperti polisi, prajurit TNI, hingga Satpol PP, berbeda dengan yang dihadapi juru parkir atau sekelasnya. Persiapan yang dilakukan pun tentu lebih lengkap dan paripurna.

Apakah risiko yang harus dihadapi Kompol Niko dan Bripka Indra bisa saja menimpa anggota polisi lain? Jawabnya dipastikan akan selalu membayangi setiap gerak aparat kepolisian, meski bentuknya bisa bermacam-macam.

Kini bagaimana persiapan yang dilakukan anggota kepolisian dan aparat keamanan lainnya saat akan bertugas, plus menjaga tingkat reflektivitas dia saat bertugas dengan selalu menempa ilmu bela diri yang dimiliki.

Pasalnya, makin dibina dan dilatih setiap saat, refleks seseorang akan tetap terjaga saat menhadapi situasi darurat. Begitu pula sebaliknya, tingkat refleknya bakal berkurang kalau telah lama tidak dilatih.

Bekal ilmu beladiri, disamping kepiawaian menggunakan senjata api, menjadi hal penting seorang aparat keamanan saat akan melaksanakan tugasnya. Persiapan matang diharapkan mampu menghindarkan dari berbagai marabahaya yang mengancam. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved