Berita HSS

Sungai Amandit Kabupaten HSS Surut, Penjual Bambu dari Loksado Sering Bermalam di Lanting

Sungai Amandit Kabupaten HSS hingga saat ini masih surut. Kondisi tersebut menyulitkan penjual bambu dari loksado menembus Kampun Plantingan kandangan

Tayang:
Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/hanani
Para penjual bambu dari Kecamatan Loksado Hulu Sungai Selatan, saat tiba di Palantingan, Kandangan Hulu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN-Hujan beberapa kali di Kabupaten Hulu Sungai Selatan sejak pekan ke empat  Oktober, belum membuat debit Sungai Amandit meningkat.

Pantauan sepekan terakhir, jalur transportasi sungai tersebut masih dangkal. Kondisi tersebut membuat para  penjual bambu dari Loksado Kecamatan Loksado kesulitan menembus Kampung Palantingan, Kandangan tempat transaksi jual beli bambu.

 Mereka terpaksa harus bermalam di lantin (puluhan bilah mambu yang diikat jadi rakit) , karena tak bisa melarutkannya dengan penanjak (tongkat bambu) dalam waktu  lebih cepat.

Seperti dituturkan Usman (55) , warga Desa Kandhin, Loksado yang ditemui Kamis 31 Oktober kemarin. Dari Kandihin, Usman berangkat Rabu 30 OKtober 2019 pukul 09.00 wita. Dia baru bisa mencapai Palantingan, Kandangan Hulu Kamis pukul 08.00 Wita.

Baca: Modus Pemeriksaan Kesehatan Gigi, Kepala SDN di Kapuas Hulu Ini Cabuli 3 Muridnya di Ruang UKS

Baca: LINK INDOSIAR! Live Streaming Madura United vs Persipura Liga 1 2019, Live TV Online Indosiar

Baca: Penyanyi Dangdut ini Sudah Terima Job Dua Hari di Luar Kota untuk Malam Pergantian Tahun

Baca: Awalnya Dikira Plastik Biru, Ternyata Sosok di Bibir Kawah Gunung Dempo Adalah 2 Pendaki yang Hilang

 “Sampai di Desa Jambu Hulu menjelang magrib, akhirnya kami  bermalam di sana. Tidurnya di atas lanting, pakai tikar,”kata Usman yang melarutkan lanting dari Kandihin bersama tiga orang penjual bambu lainnya.

Untuk bekal makanan, para penjual lanting biasanya membawa bekal dari rumah. Bisa pula memasak nasi umbal (memasak nasi dan ikan dalam batang bambu jenis buluh). Ikannya menangkap di sungai, lalu dimasak dalam buluh tipis tersebut dan dimakan bersama.   

 Dijelaskan, jika kondisi sungai airnya tinggi dan arusnya deras, lebih mudah membawa rakit, sehingga cukup setengah hari atau paling lambat 10 jam sudah sampai ke Palantingan. Bahkan jumlah bilah bambu yang dibawa bisa lebih banyak, sehingga hasil penjualan dan uang yang dibawa pulang pun lebih banyak untuk keluarga.

 Bagi warga Loksado yang mayoritas dari suku Dayak Meratus, mencari bambu untuk dijual ke Kandangan, ibu kota kabupaten merupakan mata pencaharian turun temurun.

Dulu, semasa harga karet mahal dan bisa dijadikan tumpuan ekonomi keluarga, menyadap karet adalah pekerjaan utara, selain berkebun kayu manis dan kemiri.

“Sekarang, harga karet masih dikisaran Rp 5.000 sampai 7.500. Kayu manis masih belum bisa dipanen, sehingga menjual paringlah yang jadi pencarian utama kami,”kata Usman.

 Sementara, dari pekerjaan satu haru satu malam membawa lanting, satu orang rata-rata berpenghasilan Rp 500 ribu sampai Rp 750 ribu, namun hanya satu kali dalam satu minggu. Kecuali jika air sungai sedang tinggi, bisa sampai tiga kali dalam satu minggu.

“Kalau arus deras, kami bisa mendapatkan Rp 1 juta per satu kali menanjak (membawa rakit),”ungkap penjual rakit lainnya.

 Selama air surut satu rakit maksimal 30 sampai 40 bilah bambu. Sedangkan musim air dalam, bisa sampai 100 bilah bambu, dengan ukuran bervariasi, sampai 10 meter.

Penjual bambu dari Loksado saat transaksi jula beli bambu di atas rakit di Sungai Amandit Palantingan, Kandangan Hulu.
Penjual bambu dari Loksado saat transaksi jula beli bambu di atas rakit di Sungai Amandit Palantingan, Kandangan Hulu. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Harga satu bilah bambu tergantung ukuran besar kecil, yaitu Rp 8000 sampai Rp 25 ribu ber bilah bambu. Begitu sampai di pelantingan, banyak pembeli yang sudah menanti. Setelah negosiasi harga, para penjual bambu pulang di jemput anak-anak mereka menggunakan sepeda motor.

 Ada pula yang naik angkutan umum, bagi yang tak punya sepeda motor. Muhammad Noor, pembeli bambu dari Loklua Kandangan,mengatakan dua kali dalam seminggu menunggu bambu dari penjual darai Loksado tersebut.

Baca: Aksi Prank Pocongnya Bikin Risau Warga, Dua Remaja Ini Ditangkap Polrestabes Makassar

Baca: Tandang ke Kandang Lawan Persela Lamongan, Bomber Barito Putera Akan Buktikan ini

Baca: Tidak Keluar 3 Hari, Driver Ojol Ditemukan Membusuk di Kamar Kost, Ada Cairan Pembunuh Serangga

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved