Berita Batola
2 Juta Ekor Ikan Nila yang Mati di Jala Apung Barito Kuala
Fandi, petani ikan nila menggunakan jala apung di Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, hanya bisa pasrah.
Penulis: Edi Nugroho | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Fandi, petani ikan nila menggunakan jala apung di Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala/Batola (Baritokuala, KBBI), Kalsel, hanya bisa pasrah.
Lelaki yang memanfaatkan arus Sungai Barito ini, setiap harinya harus kehilangan sekitar 500 ekor ikan nila umur sekitar 3 bulan. Semua ikannya itu mati.
“Setiap hari, 500 ekor nila yang mati. Pagi hari, 200 ekor dan sore sekitar 300 ekor yang mati,” sebut Fandi dengan nada sedih, saat ditemui, Kamis (9/1/2020).
Dirinya memiliki beberapa karamba atau jala apung yang diisi ikan. Saat pagi. selalu membuang ikan mati.
Begitu juga saat sore dan malam, kembali harus membuang ikan-ikan nila yang mati.
“Total kerugian dari pembelian bibir ikan dan pakan ikan, mencapai sekitar Rp10 jut,” ungkapnya.
• NEWSVIDEO: Aset Bangunan Desa Wonorejo Belum Difungsikan, Tunggu Ada Penyerahan Aset ke Pemda
• Awal Januari, Ditemukan Dua Kasus Dugaan DBD di Tapin, Pasien Berasal dari Sini
• Turun Tangani Pencemaran Oli di Sungai Martapura, Ditreskrimsus Polda Kalsel Ambil 5 Sampel di TKP
• Pelaku Pencabulan Terhadap Bocah di Palangkaraya, Ditangkap di Kapuas
Sementara itu Syaiful Asgar, Kabid Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola, memperkirakan, ikan nila yang mati sekitar 2 juta ekor. Dimungkinkan, 2.580.000 ekor.
Sebagian besar, kata dia, merupakan benih ikan berumur 2 bulan. ”Estimasi tersebut diperoleh dari rata-rata 10.000 bibit yang disemai dalam 258 keramba,” jelasnya. (Banjarmasinpost.co.id/Edi Nugroho)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ikan-ikan-yang-mati-di-dalam-jala-apung.jpg)