Kreativitas Menghasilkan Dolar
Tas Rotan Olahan UMKM di Kalsel Diproduksi Bercitarasa Internasional, Rutin Dapat Pesanan dari Swiss
Tas Rotan Olahan UMKM di Kalsel Diproduksi Bercita Rasa Internasional, Rutin Dapat Pesanan dari Swiss
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Deretan tas berbahan rotan warna-warni disusun rapi di etalase Toko Borneo Braid.
Tampak cantik dan berkelas karena dipadukan dengan bahan kulit dan vinil.
Tak disangka, itu hasil produksi ibu-ibu anggota Koperasi Jalujur Banua Bawarna, yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Tas dibikin sejumlah pelaku UMKM di antaranya Rakhmalina Bakhriati dan rekan-rekan.
Lina --sapaan Rakhmalina– saat ditemui BPost menjelaskan pihaknya telah memproduksi tas rotan sejak 2012.
• Maia Estianty Tumbang di Jet Pribadi Setelah Sempat Heboh Bertemu Ahmad Dhani di Indonesian Idol X
• Akhirnya Ayu Ting Ting & Ivan Gunawan Saling Ucap Cinta, Jawab Permintaan Abdul Rozak Soal Jodoh?
• Jalan A Yani Martapura Padat Merayap, Jemaah Terus Berdatangan ke Haul ke-15 Guru Sekumpul
Ketika itu peminatnya belum banyak.
Setelah beberapa bulan, tim produksi dan pemasaran mulai berinovasi dan bereksplorasi menyesuaikan tren dan permintaan.
“Tas ini untuk kalangan ibu-ibu. Mereka tak ingin sama. Oleh karena itu tas rotan ini dibuat secara berseri dan limited edition,” kata Lina mengungkapkan strateginya.
Kini permintaannya mencapai ratusan tas perbulan.
Melalui jalinan kerja sama perdagangan internasional, Lina dan kawan-kawan mendapat kesempatan mempromosikan tas rotan mereka melalui berbagai event yang digelar di Benua Eropa.
Beberapa tahun lalu, mereka diundang mengikuti karnaval atau bazar di Swiss.
Di sana Lina dan kawan-kawan mempraktikkan langsung cara membuat tas rotan dan kerajinan etnik khas Kalimantan lainnya.
Setelah karnaval selesai, order terus datang dari Swiss.
Selain Swiss, tas rotan juga dipasarkan ke Jerman.
“Di Jerman ada toko yang menjual khusus kerajinan tangan di seluruh dunia, nama tokonya Folksday. Tas-tas rotan kami disuplai ke sana berdasarkan musim dan kebutuhan. Meskipun tidak rutin namun selalu ada permintaan,” imbuh dia.
Selain menentukan model, Toko Folksday kerap meminta contoh pola atau model tas yang akan dibuat.
Model tas yang disetujui Folksday akan dibuat berdasarkan permintaan.
Kecenderungan pasar Eropa, menurut Lina, adalah tas rotan yang simpel, kuat, rapi, dan berkualitas tinggi.
Kegunaan tas rotan bisa untuk souvenir, sebagai tas travelling, hingga dipakai di acara semi formal.
Mengenai harganya tentu saja lebih mahal dibandingkan tas yang dipasarkan di dalam negeri.
Di dalam negeri, tas dihargai Rp 100 ribu-Rp 500 ribu.
Sedangkan di luar negeri dinilai berdasarkan dolar Amerika Serikat.
Selain tas berbahan rotan, Lina dan kawan-kawan juga tengah mengembangkan tas berbahan purun yang dikreasikan dalam berbagai motif.
“Sebelum ada hiasan berupa sulam pita, tas purun atau bakul dijual Rp 5 ribu-Rp 25 ribu. Begitu dikreasikan ternyata nilai jualnya meningkat. pernah jual Rp 150 ribu,” kata dia.
Selain model sulam pita, Lina dan rekan-rekan berencana mengembangkan motif lain yakni teknik rajutan yang saat ini kembali hits digunakan dalam produk pakaian.