Wabah Virus Corona
Begini Dilema Mahasiswi Perantauan Saat Masa Libur Covid-19, Diny dan Nisa Pilih Tak Pulang
Penularan Covid-19 yang semakin disadari, membuat banyak masyarakat lebih berhati-hati. Begitu pun yang sedang dilakukan oleh Diny Fitria
Editor: Anjar Wulandari
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Penularan Covid-19 yang semakin disadari, membuat banyak masyarakat lebih berhati-hati. Begitu pun yang sedang dilakukan oleh Diny Fitria, mahasiswi semester akhir jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) di UIN Antasari.
Sempat berkeinginan untuk pulang, namun mengingat transportasi umum yang akan mengantarkannya ke daerah asal, membuat perempuan asal Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan itu ragu.
"Bukan mendahului takdir, tapi untuk jaga-jaga, takutnya membawa virus yang berbahaya. Apalagi di kampung banyak lansia yang memang memiliki penyakit bawaan," ucapnya.
• Obyek Wisata Religi di Tapin Ditutup Selama Wabah Corona
• ODP Perempuan Disediakan Kamar Khusus, Hanya untuk yang Memiliki Gejala Klinis
Selain faktor keselamatan diri dan menghindari adanya penularan yang mungkin saja akan ia bawa usai dari daerah perantauan, Dini juga sedang sibuk mengelola bisnis onlinenya di sela mempersiapkan tugas akhir.
Kos yang ia diami di Jalan Manunggal Gang IV kelurahan Kebun Bunga Kecamatan Banjarmasin Timur itu kini tersisa tiga orang yang sebelumnya diisi oleh lima orang.
Ia menyampaikan, tidak ada kendala yang begitu berarti untuk memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari. Ia dapat membeli keperluan dapur di toko-toko atau pasar kecil yang masih buka di sekitar kosnya.
Berbeda halnya dengan Nisa Dewi, Mahasiswi asal Balangan, Kalimantan Selatan itu justru memilih bertahan di Banjarmasin sebab masih adanya kelas online yang harus ia ikuti.
Mahasiswi semester enam Pendidikan Seni Tari STKIP PGRI Banjarmasin itu mengaku akan kesulitan jika mengikuti kelas online dari daerah asalnya.
"Saya memilih tetap di Banjarmasin untuk mengikuti kuliah online. Soalnya di kampung halaman susah sinyalnya," katanya.
Memilih bertahan di kost membuatnya semakin merasa sepi. Sebab selama teman-teman lain memutuskan untuk pulang ke daerah asal, ia mengaku tak bisa . Aktivitas yang berjalan monoton membuatnya harus lebih bersabar.
Kos yang tadinya terisi sebanyak 20 orang di Jalan Jln Sultan Adam Gang STKIP PGRI Banjarmasin komplek Haji Iyus Blok Utama 23 RT 23 RW 2 itu kini hanya tersisa delapan orang penghuni di Rumah kost H Mamduh Amir.
"Bedanya sekarang tidak bisa berkumpul lagi. Aktivitas di kost sekarang tidak banyak seperti waktu teman-teman belum pulang kampung," ucap Nisa.
Sama dengan Diny, Nisa menyampaikan tidak begitu kesulitan dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, meskipun aktivitas di luar rumah sekarang lebih ia batasi.
"Iya kalau mau mencari makan saja, baru keluar Kost," ucapnya pada Kamis (9/4/2020) siang.
(banjarmasinpost.co.id/ leniwulandari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mahasiswa-suarakan-penolakan-ruu-omnibus-law.jpg)