Kurs Rupiah
Rupiah Hari Ini Letoy, Nilai Tukar Rupiah Melemah Seharian, Ditutup 15.640 Dollar AS
Selama 2 hari rupiah menguat, hari ini Letoy, Nilai Tukar Rupiah Melemah Seharian, Ditutup 15.640 Dollar AS, saat wabah covid-19
Editor: Royan Naimi
BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA – Rupiah hari ini letoy (lemah). Berbanding terbalik selama dua hari terakhir yang menguat, hari ini Kamis 16 April 2020, kurs rupiah melemah seharian dan ditutup pada nilai 15.640 per Dollar AS.
Pada penutupan perdagangan di pasar spot Kamis, rupiah ditutup melemah terhadap Dollar AS, beda dari 2 hari berturut-turut, meskipun sama-sama dalam kondisi wabah covid-19.
Info Bloomberg Kamis, rupiah ditutup kurs rupiah terkoreksi atau melemah 65 poin (0,42 persen) dibandingkan penutupan Rabu pada level Rp 15.575 per dollar AS.
Menurut Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, pelemahan rupiah ini terjadi usai pasar merespon negatif perkataan Menteri Keuangan.
Sebelumnya, Sri Mulyani mengungkapkan ekspektasinya mengenai kondisi ekonomi Indonesia yang memburuk sebagai dampak pandemi virus corona.
• Rupiah Hari Ini Perkasa di Asia, Sejak Kemarin Kurs Rupiah Menguat Saat Wabah Virus Corona
• Saat Rupiah Perkasa Hari Ini, IHSG Malah di Zona Merah, Indeks Saham Asia Anjlok
• Kuota 50 GB Gratis untuk Mahasiwa Telkom University Bukan Hoax, Begini Penjelasan Pihak Kampus
“Pasar sedikit kecewa terhadap pernyataan Menkeu Sri Mulyani tentang buruknya ekonomi Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh negatif,” ungkap Ibrahim.
Ibrahim menilai, hal ini bertentangan dengan Bank Indonesia yang begitu optimis dengan fundamental ekonomi dalam negeri yang cukup tangguh, bahkan berulang-ulang memberikan informasi yang positif terhadap pasar.
“Seyogyanya Pemerintah dan Bank Indonseia harus mempersiapkan diri dengan berbagai skenario. Yang terpenting tidak boleh pesimistis terhadap kelangsungan pertumbuhan perekonomian dalam negeri dan tetap ikhtiar, berusaha dan bekerja keras dalam upaya pemulihan ekonomi,” jelas Ibrahim.
Dari sisi eksternal, pasar kembali khawatir dengan anjloknya data penjualan ritel di AS yang mencapai minus 8,7 persen pada Maret 2020. Kondisi ini merupakan yang terendah dalam sejarah Negeri Paman Sam sejak 1992.
Selain itu, indeks aktivitas manufaktur di kawasan New York juga terjun bebas hingga minus 78,2 persen. Penurunan data ekonomi juga tercermin dari laporan bank sentral AS, The Federal Reserve yang menyatakan tingkat pengangguran akan naik akibat pandemi corona.
Dari berbagai lembaga Internasional, seperti Dana Moneter International (IMF), Bank Dunia, maupun OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) sudah memproyeksikan ekonomi global tumbuh negatif di 2,8 persen.
“Sejumlah industri di dunia terhenti akibat pandemi virus corona, sehingga kalau belum ada penyelesaian tentang pandemi virus corona maka akan terjadi kontraksi dan mengarah ke resesi,” kata dia.
Diberitakan sebelumnya, saat wabah virus corona, nilai tukar atau kurs rupiah malah tergolong perkasa. Hari Rabu (15/4/2020) rupiah kian kuat, penguatan mata uang RI terjadi sejak Selasa (14/4/2020).
Pada hari ini Rabu 15 April 2020, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot ditutup menguat ke angka Rp 15. 575 dolar AS, meskipun sedang wabah virus corona.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mata-uang-pecahan-rupiah_20170721_165239.jpg)