Wabah Corona di Kalsel
Bertugas di Ruang Isolasi Covid-19, Ini Pengalaman Perawat di Banjarmasin
Seorang perawat di Banjarmasin mengaku sudah terbiasa tidak berlebaran dan kini terbiasa pula bertugas di ruang isolasi Covid-19.
Penulis: Stanislaus Sene | Editor: Alpri Widianjono
Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Hari Raya Idul Fitri adalah momen spesial dimana para perantau dapat kembali bertemu suami, Istri, ibu, ayah dan keluarga besar untuk melepas rindu. Satu tradisi yang bersifat kegembiraan, kebahagiaan, dan suasana saling berkasih sayang antara setiap muslim.
Diungkapkan perawat muda di Rumah Sakit dr M Ansari Saleh, Banjarmasin, Dani Resa Setiawan, A.Md.Kep, bertugas saat Idul Fitri sudah biasa.
"Kami jaga piket saat hari raya atau libur besar dari tahun ke tahun, tidak hanya saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Sudah risiko menjadi seorang perawat, menurut saya," ungkapnya saat ditemui Banjarmasinpost.co.id, Selasa (26/5/2020).
Ia mengatakan, sebagai manusia biasa, pasti ada perasaan untuk berkumpul dengan istri dan keluarga besar saat Lebaran.
Tetapi karena harus bertugas merawat pasien-pasien Covid, mau tidak mau harus menahan perasaan itu.
"Untuk melepas kerinduan saat Lebaran, saya videocall dgn istri dan keluarga. Saya tidak bertemu dengan istri dan keluarga hampir satu bulan, sejak bertugas di ruang isolasi covid," tambahnya.
• Dokter Aswin Terharu Dengar Takbiran, Tetap Rawat Pasien Covid-19 Saat Lebaran
• Pasien Meninggal Reaktif Covid-19 di Banjarbaru, Keluarga Tolak Protokol
• VIDEO Warga Banua Anyar Banjarmasin Blokade Jalan, Buntut Ada Warga Positif Covid-19
• Corona Masih Mewabah, Masa Belajar dari Rumah Siswa-Siswi SD dan SMP di Banjarmasin Diperpanjang
Dani mengatakan, pertama kali ditugaskan di ruang isolasi Covid-19, respons istri dan keluarga menyarankan untuk menolak tugas.
"Istri dan Keluarga cemas akan keselamatan saya. Apalagi setelah melihat berita-berita di media sosial bahwa ada petugas medis yang juga gugur saat pandemi. Tetapi setelah saya jelaskan lagi kepada mereka, tentang standar dan keamanan di lingkungan, akhirnya mereka mengizinkan, tetapi tetap dengan perasaan waswas," imbuhnya.
Ia mengungkapkan tidak mudah jadi perawat pasien Covid-19. Semua serbarisiko.
"Puncaknya hari ke tiga saya bertugas di ruang isolasi Covid, saat itu istri saya video call sambil menangis minta saya berhenti jadi perawat di ruang isolasi dan minta resign dari Rumah Sakit Ansari Saleh," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Dani mengakui paham bagaimana perasaan seorang istri melihat suami harus bertugas di ruang isolasi.
"Saya bersama istri tinggal berjauhan. Istri saya seorang perawat ASN di Kabupaten Hulu Sungai Utara, di salah satu puskesmas di sana. Awalnya istri tidak menerima saya untuk bekerja di ruang isolasi. Tetapi setelah saya bujuk, akhirnya istri saya menerima," tambahnya.
Kemudian, Dani mengatakan, pengalaman yang tidak bisa dilupakan yaitu pernah muntah saat keluar dari ruang isolasi.
"Saya ingat waktu itu hari kedua bertugas di sana, tubuh saya belum beradaptasi bekerja dengan pakaian APD level tiga. Setelah keluar dari ruang isolasi dan melepas semua APD yang saya pakai dan pergi ke kamar mandi untuk mandi," kenangnya.
Meskipun demikian, perawat muda ini berharap pandemi ini cepat selesai agar semua pekerjaan bisa kembali dengan normal.
Ia pun berpesan kepada masyarakat untuk ikuti imbauan pemerintah, tetap berpikir positif dan ingat sayangi keluarga.
(Banjarmasinpost.co.id/Stanius Sene)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ilustrasi-perawatan-pasien-positif-terinfeksi-virus-corona.jpg)