Ekonomi dan Bisnis
Sempat Terdampak Pandemi, Kerajinan Purun Khas Kalsel Ini Kini Tembus Kanada
Kerajinan dengan nama brand Kerajinan Purun Borneo ini telah memasuki pasar nasional dan dijual di seluruh Indonesia
Penulis: Mariana | Editor: Hari Widodo
Editor : Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dirundung duka akibat pandemi Covid-19, termasuk di antaranya sektor kerajinan khas Kalimantan Selatan (Kalsel) berupa produk purun.
Termasuk kebutuhan sekunder, kerajinan purun pun mengalami penurunan permintaan drastis dari pembeli. Sebagaimana dialami Khusnur Rohmah yang berdomisili di Tanjung, Kabupaten Tabalong.
"Sejak awal mula terjadi pandemi Covid-19 tepatnya Maret 2020 lalu, omzet menurun tajam hingga 70 persen," jelasnya kepada Banjarmasinpost.co.id, Selasa (1/9/2020).
Memasuki new normal atau adaptasi kebiasaan baru, penjualan kerajinan purun miliknya perlahan kembali stabil. Hal tersebut tak terlepas dari upaya yang dijalankannya untuk bertahan.
• VIDEO Inilah Tanaman Purun, Bahan Membuat Kerajinan Tradisional Banjar
• Pengrajin Purun Desa Tanggul Palam Banjarbaru, Tanaman Liar Disulap Jadi Handycraft Bernilai Rupiah
• Kurangi Kantong Plastik, Pemkab Tapin Adakan 1000 Bakul Purun Gratis untuk Penyaluran Daging Kurban
Salah satunya ia pun memaksimalkan platform digital dalam pemasaran bisnis purun. Promosi dilakukan melalui sosial media dan mengadakan promo spesial setiap bulannya.
Sejak dijalankan pada 2017 lalu, kerajinan dengan nama brand Kerajinan Purun Borneo ini telah memasuki pasar nasional dan dijual di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, purun-purun milik Khusnur telah dipasarkan di luar negeri.
"Alhamdulillah beberapa pembeli dari luar negeri juga melirik kerajinan purun borneo, di antaranya sudah tembus ke Malaysia dan Kanada," ungkapnya.
Per tiga bulan terakhir diakuinya omzet mencapai Rp 20-50 juta per bulan, dengan keuntungan bersih sekitar 30 persen dari omzet kotor.
Produk yang dihasilkan berupa keranjang, tas, dan tikar kisaran harga antara Rp 5.000-600.000. Produk yang paling diminati yakni belly basket, kisaran harga Rp 15.000-100.000.
Selain kerajinan purun, kerajinan kayu pun cukup banyak dan tersebar di Banua. Di antaranya diproduksi oleh Mahdiannoor, warga asal Paringin, Balangan.
Kerajinan dan furnitur dari kayu yang dibuatnya ada beberapa jenis, yakni rak esensial oil, rak bumbu dapur, rak buku, tempat pot bunga, dan lain-lainnya yang dibuat menjadi berbagai bentuk ada menyerupai kaktus, bunga matahari, dan bentuk dasar yakni persegi atau kubus dan bulat.
"Harganya berkisar mulai Rp 50.000 hingga Rp 1 juta tergantung jenis kerajinan dan ukuran yang dipesan oleh customer," jelasnya.
Baru memulai usaha ini sejak Maret 2020 lalu, permintaan pun melebihi ekspektasi. Dalam sehari ia mampu memproduksi 10-20 buah rak-rak kecil berdasarkan permintaan custom dari pembeli.
• Dosen Cantik Bertitel Doktor Ini Rela Tidur Beralas Tikar Purun, Ini Kisah di Balik Kesuksesannya
Hingga saat ini diakuinya, penjualan tidak hanya di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) namun juga menembus pasar nasional. Tercatat sudah melakukan pengiriman ke Palembang dan Jakarta, dan menyusul daerah-daerah di Pulau Jawa pengiriman selanjutnya.
Proses pembuataannya sendiri membutuhkan rentang waktu 1-7 hari tergantung jenis, kerumitan, dan ukuran kerajinan. Namun saat ini terkendala peralatan dalam pembuatannya. (banjarmasinpost.co.id/mariana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/pembuatan-berbagai-kerajinan-purun.jpg)