Breaking News:

Berita Banjarmasin

Indonesia Masa Resesi, Tim Pakar ULM Nilai Langkah Tanggung Pemerintah Indonesia Tak Efektif

Semakin lama durasi pandemi maka semakin besar ongkos yang harus ditanggung masyarakat, dunia usaha dan pemerintah sendiri.

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Eka Dinayanti
Istimewa
Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM, Hidayatullah Muttaqin, SE., M.Si., Pg.D 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Akibat rangkaian efek pandemi Covid-19 yang menghantam berbagai sektor termasuk di Indonesia sejak triwulan pertama Tahun 2020, akhirnya ekonomi Indonesia jatuh juga ke dalam resesi pada triwulan III 2020 ini.

Menurut Anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin, SE., MSI., Pg.D resesi terjadi setelah dalam dua triwulan berturut-turut pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi.

Yaitu sebesar minus 5,32 persen pada triwulan II dan minus 3,49 persen pada triwulan III.

Padahal, sebelumnya pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar ekonomi Indonesia tidak terperosok ke dalam resesi.

Baca juga: Sentil Posting Maksiat, Aldi Taher Colek Nikita Mirzani, Sebut Nyai Begini

Baca juga: Ingatkan Dosa Zina, Umi Pipik Atur Gaya Pacaran Abidzar dan Nadia Raisya

Baca juga: Pekerjaan Ayah Ayu Ting Ting Usai Pensiun PNS, Tampilan Abdul Rozak Berubah

Termasuk diantaranya kebijakan menarik wisatawan yang terkesan kontradiktif karena dilakukan saat wabah di Cina mulai menyebar ke berbagai negara pada triwulan I Tahun 200.

Lalu, Pemerintah juga memilih melaksanakan penerapan sosial berskala besar (PSBB) daripada karantina wilayah atau yang populer disebut lockdown pada kuartal II.

Pemerintah juga menerapkan strategi adaptasi kebiasaan baru (new normal) sejak Bulan Juni untuk meredam kontraksi perekonomian yang mulai dirasakan saat itu.

"Walhasil strategi yang sudah diterapkan pemerintah tidak dapat mencegah datangnya resesi. Satu sisi tujuan ekonomi tidak dapat diraih sedangkan di sisi lain pandemi Covid-19 berlangung mnjadi lebih lama dan lebih banyak korban," kata Muttaqin.

Hingga 8 Nopember, akumulasi jumlah penduduk yang teinfeksi sudah mencapai 437 ribu kasus yang mengakibat 14.614 jiwa melayang akibat Covid-19.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved