Bisnis Techno
TERJADI Lagi! Nomor HP Pengguna Facebook Dibobol dan Dijual Cuma Rp 280.000 di Telegram
sebanyak 533 juta data pengguna Facebook, seperti user ID dan nomor telepon (HP) diperjualbelikan secara ilegal oleh hacker
Editor : Didik Trio Marsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID - Kasus pencurian dan pembobolan data Facebook sering terjadi.
Beberapa tahun lalu data Faceboo dicuri oleh firma analis Cambridge Analytica.
Kemudian muncul lagi insiden memalukan, 50 juta akun Facebook diretas oleh oknum tak bertanggung jawab 2018 lalu.
Dan Facebook baru mengetahuinya setelah beberapa hari berjalan.
• Banyak Pengguna Berpindah Aplikasi Lain, Whatsapp Batalkan Kebijakan Integrasi dengan Facebook
• Sharing Data WhatsApp ke Facebook, DPR Ingin Pemerintah Lindungi Data Pribadi Rakyatnya
• Jokowi Lantik Komjen Listyo Sigit Jadi Kapolri Hari Ini Rabu 27 Januari, Usai Divaksin Covid-19 ke-2
Dibobolnya data pengguna ini disampaikan langsung Vice President of Product Management Facebook, Guy Rosen, melalui blog resmi sang raksasa jejaring sosial pada Jumat (28/9/2018) lalu.
Nah, ini yang terbaru di 2021, sebanyak 533 juta data pengguna Facebook, seperti user ID dan nomor telepon (HP) diperjualbelikan secara ilegal oleh hacker, dengan memanfaatkan bot di aplikasi pesan instan Telegram.
Kasus ini pertama kali diungkap oleh Alon Gal, Chief Technical Officer pada perusahaan keamanan siber Hudson Rock.
Menurut Gal, ini adalah imbas dari kebocoran data Facebook yang terjadi pada Agustus 2019 lalu.
Gal turut memaparkan bahwa sang hacker memanfaatkan bot yang tersedia pada aplikasi Telegram.
Bot ini memungkinkan seseorang mengetahui user ID pengguna Facebook, apabila mereka sudah mempunyai nomor telepon pengguna yang dicari.
Sebaliknya, apabila calon pembeli sudah memiliki user ID Facebook seseorang, maka bot akan mencari nomor telepon pengguna yang bersangkutan.
Agar bisa mengakses data-data ini, peminat diminta membeli kredit. Satu kredit diperlukan untuk setiap satu nomor telepon atau identitas pengguna Facebook yang ingin diakses. Adapun harga yang dipatok untuk satu kredit adalah 20 dollar AS (sekitar Rp 282.000).
Sang hacker turut menawarkan pembelian dalam jumlah banyak, yakni sebesar 5.000 dollar AS (sekitar Rp 70,5 juta) untuk setiap 1.000 kredit yang dijual.
Dihimpun KompasTekno dari Motherboard, Rabu (27/1/2021), bot ini diklaim telah menampung ratusan juta data pengguna yang tersebar di berbagai negara, mulai dari AS, Kanada, Inggris, Australia, serta puluhan negara lainnya.
Meski disebut kebanyakan nomor telepon yang bocor berasal dari kebocoran data Facebook pada 2019 lalu, namun kasus ini tetap mengancam risiko pengguna. Sebab, tidak banyak orang yang rutin mengganti nomor pribadi mereka.
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti apakah bot yang dimaksud telah dihapus oleh pihak Telegram atau belum. Namun apabila bot tersebut telah dihapus, ironisnya para hacker masih bisa mengakses data-data tersebut melalui internet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ilustrasi-logo-facebook.jpg)