BTalk
Cara Deteksi Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Kata Psikolog ULM Kalsel dalam BTalk
Menurut dosen Psikologi ULM, perhatian orangtua pada tumbuh kembang anak akan mengetahui berkebutuhan khusus atau tidak. Perlakuan harus tepat ke ABK.
Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Seorang Anak Bekebutuhan Khusus (ABK) adalah sebuah fenomena di masyarakat.
Anak demikian bisa berarti anak yang abnormal secara fisik maupun psikis sehingga ia butuh ditangani secara khusus.
Jehan Safitri MPsi, dosen Psikologi di Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat ( Prodi Psikologi FK ULM ) yang juga Owner Pusat Terapi FUSFA Kota Banjarbaru, mengungkapkan, bagi ABK yang secara psikis abnormal maka perlu treatment yang sesuai.
"Kondisi ABK itu didiagnosis lebih dulu, apa yang perlu di-treatment, sehingga bisa berfungsi secara optimal sesuai kemampuannya. Misalkan saja, secara fisik matanya minus, maka perlu memakai kaca mata, kemudian mengonsumsi makanan mengandung vitamin yang diperlukan, duduk di kelas harus paling depan," jelasnya.
Baca juga: PSU Pilgub Kalsel 2020 di Kecamatan Banjarmasin Selatan, Ini Respons Warga
Baca juga: DPRD Kalsel Minta Al Quran Terjemah Bahasa Banjar Jadi Souvenir MTQ Nasional
Jehan yang menjadi narasumber BTalk, Banjarmasin Post Bicara Apa Saja, Sabtu (20/3/2021), menjelaskan, mendeteksi itu sebenarnya perlu pemeriksaan yang spesifik. Kalau secara awam untuk mendetekai sejak dini, bisa saja melalui pengamatan proses tumbuh kembang.
"Usia anak tiga bulan, biasanya matanya sudah bisa kontak sosial, melihat sekeliling dan tersenyum dengan orang. Kemudian usia enam bulan dan seterusnya. Jika tidak seperti kebiasaan anak pada umumnya, mungkin ada yang harus diketahui penyebabnya melalui pemeriksaan," jelasnya dalam tayangan BTalk yang dipandu jurnalis Banjarmasin Post, Edi Nugroho.
Begitupula proses anak belajar bicara. Biasanya masa dua tahun, kalau anak belum bisa bicara, maka harus diperiksa apakah speak delay itu karena terlambat atau terhambat.
Terlambat bisa dikarenakan kurang stimulasi dengan lingkungan, sedangkan terhambat mungkin karena lingkungan yang menghambatnya agar lancar bicara.
Baca juga: Atasi Traumatik Anak-anak Korban Banjir, Pemkab Tala Lakukan Pendampingan Psikologis
Baca juga: Polsekta Banjarmasin Barat Sediakan Fasilitas untuk Penyandang Disabilitas
"Faktor terhambat bisa karena sejak anak dilahirkan ia terlalu banyak mendengar berbagai bahasa, sehingga anak bingung. Misal di rumah ada yang berbahasa Banjar, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, maka bisa jadi anak susah menangkap dan belajar mengucapkan karena ada banyak bahasa ia dengar," terangnya.
Gangguan anak pun beragam. Ada gangguan pendengaran, gangguan konsentrasi dan sebagainya. Lebih jelasnya periksa ke puskesmas atau datang ke dokter anak, nanti akan dapat rujukan ke psikolog atau psikiater.
Pada perkembangannya, ABK tidak berarti tidak bisa berprestasi sebagaimana anak normal.
Sebab, banyak ABK yang berprestasi. Contohnya, ada anak autistik yang berbakat melukis. bahkan menghitung matematika, begitu juga ada yang berbakat olahraga.
Baca juga: Riset Mahasiswa Psikologi ULM, Kepatuhan Kenakan Masker Anak Dibawah 20 tahun Rendah
"Bahkan ada yang kuliah. Sebagaimana ada yang kemudian tertarik bidang komputer, ia kuliah di jurusan itu. Saat ia nanti bekerja maka pekerjaannya yang cocok adalah di balik meja atau yang tidak banyak bersosialisasi dengan orang. Jadi ia bisa lebih fokus dengan pekerjaannya," tandas Jehan.
Bincang lengkap dengan Jehan Safitri MPsi, pakar dari Prodi Psikologi FK ULM, simak video di bawah ini:
(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/jehan-safitri-mpsi-dosen-prodi-psikologi-fk-ulm-yang-juga-owner-pusat-terapi-fusfa-banjarbaru.jpg)