Breaking News:

Berita Tapin

Hidup dari Kerajinan Pernak-pernik, Difabel Tapin Ini Mengeluh Sepi Pembeli

Jumiatin (42) seorang Pengrajin berbagai jenis pernak-pernik berbahan dasar Benang Wol dan Kresek bekas. Penyandang difabel ini keluhkan sepi pembeli

banjarmasinpost.co.id/stanislaus Sene
Jumiatin saat ditemui di Kediamannya di Jalan Daeng Suganda, Desa Bitahan, Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin, Senin (19/4/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Jumiatin (42) seorang Pengrajin berbagai jenis pernak-pernik berbahan dasar Benang Wol dan Kresek bekas  yang beralamat di Desa Bitahan, Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin. Senin, (19/04/2021).

Saat ditemui Banjarmasinpost.co.id wanita dua anak ini mengakui sudah menggeluti dunia kerajinan ini sejak tahun 2009.

"Mulai dari tahun 2009 dengan belajar secara autodidak," jelas wanita Difabel Tapin Ini, Senin (19/4/2021).

Jumiatin mengakui semenjak ada Pandemi Covid-19, pihaknya kesulitan memasarkan produk-produk buatannya karena kurangnya event-event yang digelar baik oleh pemerintah maupun swasta.

Baca juga: Kado Terindah Ramadhan, Kakek Difabel Usia 63 Tahun Dapat Bantuan PT PLN UPK Asam Asam

Baca juga: Ramah Bagi Difabel, Pengadilan Negeri Tanjung Juga Sediakan Bahan Bacaan dengan Huruf Braille

"Dulu sering saya hadir di pameran-pameran dengan membuka stand. Tapi semenjak ada Covid-19, hampir tidak ada kegiatan sehingga kesulitan memasarkannya," ungkapnya.

Ia mengatakan meskipun demikian, pihaknya mengakui terus berkarya dan berinovasi tak kenal lelah demi kebutuhan hidup bersama keluarga.

"Dua anak masih dibangku sekolah, jadi mau gak mau harus tetap berkarya dibantu dengan tambahan dari aktivitas suami," ungkapnya.

Wanita yang juga merupakan atlet angkat besi ini mengatakan disela-sela kesibukannya memproduksi kerajinan-kerajinan ini, pihaknya juga terus berlatih sebagai atlet.

"Latihan biasa dilakukan bila ada waktu luang," jelasnya.

Adapun jenis produk yang dihasilkannya yakni tas dari bahan kresek (Kantong Plastik), baju anak-anak dari benang Wol, tas dari karung-karung bekas, hingga Bonek dan mainan anak-anak.

"Yang terbaru, karena masih dalam situasi Pandemi, saya membuat masker. Hanya saja yang sangat membingungkan adalah cara memasarkannya. Apalagi kondisi fisik seperti ini tidak bisa berjalan," jelasnya.

Ia mengatakan dulu sebelum corona, saya aktif ikut pameran sehingga bisa secara langsung sampaikan alamat rumah, jadi orang gampang ke rumah.

Baca juga: Mulanya 7 Bangunan Rumah Difabel, Kini di Rumah Disabilitas Banjarbaru Bertambah Dua Bangunan

"Saat ini hampir tidak ada lagi aktivitas itu, jadi untung-untung masih ada satu atau dua orang yang ingat alamat rumah dan sesekali mampir untuk beli," jelasnya.

Alamat tempat, pihaknya memulai kesehariannya dengan memproduksi hasil kerajinannya yakni jalan Daeng Suganda, RT 14, RW 04, Desa Bitahan, Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin.(Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene)

Penulis: Stanislaus Sene
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved