Breaking News:

Berita Tanahlaut

Pemalongan Dinobatkan Desa Sadar Konflik, Gesekan ini yang Sukses Ditangkal

Pemalongan menyandang predikat Desa Sadar Konflik karena selalu mampu mengatasi masalah yang kerap terjadi di wilayah tersebut

Penulis: Idda Royani | Editor: Eka Dinayanti
DISKOMINFO TALA
 Suasana penobatan Pemalongan sebagai Desa Sadar Konflik 2021, Selasa kemarin. 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Desa Pemalongan, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), dinobatkan menjadi Desa Sadar Konflik Tahun 2021.

Kalangan warga di daerah ini turut bangga.

Apalagi kultur dan sosial budaya di desa tersebut cukup heterogen sehingga potensi konflik pun kerap menyelubungi.

"Pas saja Pemalongan menyandang penobatan itu karena selalu mampu mengatasi masalah di tengah masyarakat. Semoga jadi contoh bagi desa lain," sebut Rahmat, warga Kecamatan Bajuin, Rabu (26/5/2021).

Baca juga: Puluhan Ranmor Dinas Tanahlaut Kian Kusam dan Mulai Keropos, BPKAD Upayakan Lelang

Baca juga: Jalur Alternatif Tala-Banjar Dirintis, Wakil Rakyat Sebut Dua Desa ini Berpotensi Jadi Kawasan Kota

Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Tala Yusriansyah menerangkan penobatan tersebut berkat kesuksesan Desa Pemalongan menyelesaikan konflik yang terjadi di tengah masyarakat.

Penobatan itu dilakukan, Selasa kemarin, pada kegiatan Sosialisasi Kerukunan Umat Beragama dan Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama di Aula Desa Pemalongan.

Yusriansyah mengatakan menjaga kerukunan di tengah masyarakat sangat penting agar tiap warga bisa merasa aman bertempat tinggal di wilayah tersebut.

“Kami berharap dengan adanya penetapan sebagai Desa Sadar Konflik, tercipta kerukunan di masyarakat dan kerukunan antarumat beragama,” tandas Yusriansyah.

Baca juga: Kebakaran Kalsel, Api Luluhlantakkan Tiga Rumah Dekat Jembatan Rumpiang Batola

Baca juga: Penganiayaan di HST : Ditegur Sering Pukuli Istri, Pria Ini Hantam Kakak Ipar dengan Balok Kayu

Sementara itu Kepala Desa Pemalongan, Sugianor, mengaku bersyukur karena konflik yang terjadi di wilayahnya dapat diselesaikan dan menjadi desa percontohan sebagai Desa Sadar Konflik.

Ia menuturkan penyelesaian konflik selalu dibantu oleh babinsa, bhabinkamtibmas, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Bajuin.

“Alhamdulillah, setelah bermusyawarah kami bisa meredam konflik, warga pun sudah bisa memahami. Mudah-mudahan dengan adanya Desa Sadar Konflik ini desa kami menjadi lebih baik dan tidak ada konflik yang terjadi lagi,” sebut Sugianor.

Dikatakannya, salah satu pemicu konflik yang terjadi adalah keberadaan aliran kepercayaan tertentu yang masuk ke lingkungan masyarakat Desa Pemalongan.

Aliran kepercayaan tersebut mengajarkan ritual yang tak lazim sehingga dianggap sesat dan meresahkan.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved