Berita Palangkaraya
Cegah Banjir, Dinas Lingkungan Hidup Palangkaraya Masyarakatkan Metode Biopori
Sejumlah kawasan dalam Kota Palangkaraya Kalimantan Tengah saat musim penghujan kerap dilanda banjir sehingga berbagai metode dilakukan untuk melakuka
Penulis: Fathurahman | Editor: Edi Nugroho
Editor: Edi Nugroho
BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA -Sejumlah kawasan dalam Kota Palangkaraya Kalimantan Tengah saat musim penghujan kerap dilanda banjir sehingga berbagai metode dilakukan untuk melakukan pencegahan salah satunya dengan memasyarakatkan program biopori.
Biopori berbentuk lubang silendris yang dalam penggunaan metode dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air. Kedalaman biopori mencapai 50-100 centimeter yang dibuat sebegai upaya mencegah terjadinya genangan air pada kawasan dataran rendah.
Penggunaan biopori tersebut juga bermanfaat secara arsitektur lanscap yang digunakan sebagian orang sebagai pelengkap pertamanan di berbagai rumah mewah dan rumah minimalis yang menerapkan konsep rumah hijau ramah lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangkaraya, Achmad Zaini, Minggu (15/8/2021) mengungkapkan,
pihaknya mulai menerapkan metode ‘Biopori’ dibeberapa tempat untuk mencegah terjadinya genangan air yang kerap menyebabkan hingga terjadinya banjir.
Baca juga: Banjir Kalteng, Meluas Hingga ke Sejumlah Kabupaten, Bantuan Mulai Berdatangan
Baca juga: Banjir Kalteng, Jalan Trans Kalimantan di Pulangpisau Terendam, Pengendara Motor Menumpang Kelotok
Baca juga: Banjir Kalteng, Pemkab Kapuas Kirim Bantuan Awal, Respon Banjir di 6 Kecamatan Wilayah Hulu
Baca juga: Banjir Kalteng, Pemkab Kapuas Kirim Bantuan Awal, Respon Banjir di 6 Kecamatan Wilayah Hulu
Baca juga: Banjir Kalteng : BPBD Sebut Banjir di Hulu Kapuas karena Curah Hujan Tinggi
“Metode ini diperkenalkan, sebagai salah satu solusi terbaru menanggulagi bencana alam. Karena manfaat biopori secara ekologi dan lingkungan mampu memperluas bidang penyerapan air sebagai penanganan limbah organik dan meningkatkan kesehatan tanah," ujarnya.
Dijelaskan dia, metode biopori sudah diterapkan dibeberapa lokasi kawasan rentan genangan air yang ada di Kota Palangkaraya. Seperti di Jalan Perdana, Simpei Karuhei dan Jalan Bondol."Dengan inovasi ini dihatrapkan Palangkaraya menjadi kota yang maju dengan tetap prioritakan kearifan lokal," ujarnya. (banjarmasinpost.co.id / faturahman).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/dinas-lingkungan-hidup-kota-palangkaraya-pallan.jpg)